Posts

Showing posts from March, 2014

Kupinang Kau dengan Blog Seadanya (Bag. I)

Punya kekasih itu rasanya bagaimana, sih? Aku hampir lupa setelah sekian (agak) lama berjeda tanpa asmara. Hingga tak disadari usiaku sekarang sudah hampir   seperempat abad. Terakhir menjalin asmara (meskipun ala ABG labil) kira-kira beberapa tahun lalu lah, dalam suasana yang masih menggembirakan, yang tak pernah mempersoalkan kesetiaan dan perhatian. Menurut analisis temanku   yang sok-sokan jadi pakar pengamat asamara, salah satu penguatnya karena di luar urusan cintaku, hampir tak ada masalah yang mengganggu kegembiraan tersebut. Misalnya, aku di masa itu masih dalam keadaan masa kejayaan. Secara saku kantong ya cukup lumayan tebal, sampai-sampai untuk berjalan kaki aku sering sempoyongan. Hehehe. Aku masih menduduki jabatan penting dimana-mana, tidak hanya dualisme organisasi tapi malah pancalisme organisasi. Pokoknya serba prestisius, tanda tangan dan cap tiga jariku saja masih laku dan banyak yang membutuhkan. Hahaha. Juga secara penampilan masih terlihat...

Aku di Rumah Janda

(Cerita dewasa / Tak Perlu Bimbingan Orangtua) Bila terjebak kehujanan di rumah janda muda kembang desa, pasti anda bergembira saja bahkan berlama-lamapun tak apa, seraya dalam hati berdoa, ya Tuhan, aku adalah hambamu yang pertama kali bersyukur bila karunia hujanmu ini Engkau limpahkan lebih lama, limpahkanlah air dari langit-Mu lebih deras lagi, lebih kencang lagi. (Bilang amiin sambil ketawa-tawa). Namun bagaimana bila anda terjebak kehujanan di rumah janda tua, dengan kondisi rumah yang cukup memprihatinkan? (Maaf) becek, sempit, lusuh, bau, pengap, sebagaimana yang saya alami kemarin lusa sore, terjebak dalam deras hujan yang tak kunjung reda, hingga kamipun berlarut dalam sebuah percakapan yang cukup mengharukan. Ya …kisahnya bisa dikatakan mirip-mirip dengan program di televisi itu lah, jika aku menjadi , orang pinggiran , dan sebagainya. Sama-sama mengharukan. Bedanya, program tayang televisi itu bisa memberikan santunan serta pesangon di akhir acaranya, sedangka...

Menjadi Penulis Tanpa Bayaran

Kepada siapa lagi pesan ini saya tujukan, kalau bukan kepada temanku mahasiswa. Sebenarnya saya (agak sedikit) malu menulis ini, malu dibaca oleh penulis senior kawakan yang sering mengguruiku, tapi saya yakin (di luar itu) masih banyak yang membutuhkan suntikan informasi. Penulis tanpa bayaran, saya banyak menjumpainya. Motifnya sederhananya, kemungkinan pertama , karena benar-benar mau berbagi. Kedua , tidak ada kegiatan lain kecuali menulis. Ketiga , ajang latihan menjadi penulis hebat sekalian teskis respon seberapa tertarik pembaca. Keempat , dan sebagainya. (Istilah “dan sebagainya” itu sebenarnya hanya bentuk ketidakmampuan penulis untuk menganalisis lebih detail lagi. Hehe) *** Tidak mudah menjadi orang yang gampang berbagi tulisan. Yang pandai sekalipun belum tentu rela untuk membagi ilmunya, sebagaimana orang kaya yang tidak semuanya dermawan membagi kekayaannya. Menjadi penderma karya itu memang perlu latihan, dari sekarang. Tak harus menunggu jadi penulis he...

Antara Su, Bro, dan Beb

Su, Bro, dan Beb, beberapa hari ini aku kembali mendengar nama-nama itu. Diantara ketiganya, Su yang paling sering menyapaku. Bro agak jarang. Sementara Beb, entahlah simak saja ! Su, Su, terakrab diantara ketiganya. Tidak ada pertemanan lain yang lebih dekat lagi, ketimbang pertemananku dengan Su. Dalam satu hari, Su menyapa aku (mungkin) lebih dari seratus kali. Begitu sebaliknya aku menyapanya. “ Hallo Su, aku butuh duit !!! Su, ngopi yoh !!! Su, ayo kerjo !!!” Bahkan Su jauh lebih perhatian kepadaku melebihi perhatiannya Beb , saat aku masih punya Beb dulu. Su , begitu sapaku kepada teman-teman akrabku. Aku tak pernah canggung menyapanya di tempat umum sekalipun, apalagi teman Su laki-laki, sedangkan untuk teman Su perempuan, aku agak sedikit canggung memanggilnya Su, lantaran saya kasihan bila hal itu akan merendahkan martabatnya sebagai perempuan di depan umum. Akirnya saya ganti menyapanya menjadi Cuy , sebagai ganti Su (karena alasan perempuan tersebut...

Seandainya Aku Aktivis

Kemarin, hari yang kesekian kali saya ketinggalan kereta api. Kebiasaan terburuk setiap kali perjalanan, biasanya hanya gara-gara membeli sebatang rokok eceran, tiketpun mubadzir. Kalau tidak begitu, biasanya gara-gara menunggu teman yang sedang mandi atau bangun kesiangan. Dari jogja, seharusnya saya sudah kembali ke Tulungagung untuk  memamerkan cerita perjalananku kepada teman-teman sekamar; tentang pertemuanku dengan orang-orang hebat, tentang pertemananku dengan mahasiswa di kampus-kampus luar kota atau bercerita tentang iklim gerakan di sana. Apa urgent-nya sehingga saya harus menceritakan itu? Berharap nanti ada yang terprofokasi untuk mengikuti seperti apa yang kulakukan, Memang ini cara klasik yang sering diterapkan para seniorku untuk membujuk adik-adiknya. Tapi setidaknya setelah saya cerita, berharap dari mereka nanti ada keinginan untuk lebih progres dalam berkarya, melampaui pencapaian prestasi mahasiswa luar kota, ada kemauan lebih giat untuk belajar...

Pahlawan Tanpa Tanda Tamat Belajar

Lalu kapan saya akan diwisuda Adik kelas sudah lebih dulu Hati cemas merasa masih begini Teman baik sudah di D.O. Orang tua di desa menunggu Calon istri gelisah menanti Orang desa sudah banyak menganggap Aku jaya di negeri orang Tolonglah diriku koboi kampus yang banyak kasus Diriku cemas gelisah sepanjang waktu-waktuku” - Panas Dalam – Tidak lulus kuliah itu sebuah pilihan atau keterpaksaan? Sebenarnya saya adalah anak yang baik hati, penyanyang, sabar dan santun. Namun, ketika ada yang bertanya tentang skripsi dan semester, bisa saja dalam sekejap berubah menjadi beringas, kejam dan muka saya mendadak memerah serta kepala tiba-tiba menjadi pening berkunang-kunang. Sebagaimana mendengar lirik diatas, hati saya seperti tersobek-sobek dan tersinggung serta miris. Saya hanya merenung, apakah semua orang hendak menganggap remeh ( under-estimate ) mahasiswa yang lama semesternya? Atau barangkali orangtua yang memiliki anak cantik bakal ragu dan mengurungk...