Seandainya Aku Aktivis
Kemarin,
hari yang kesekian kali saya ketinggalan kereta api. Kebiasaan terburuk setiap
kali perjalanan, biasanya hanya gara-gara membeli sebatang rokok eceran, tiketpun
mubadzir. Kalau tidak begitu, biasanya gara-gara menunggu teman yang sedang mandi atau bangun kesiangan.
Dari
jogja, seharusnya saya sudah kembali ke Tulungagung untuk memamerkan cerita perjalananku kepada
teman-teman sekamar; tentang pertemuanku dengan orang-orang hebat, tentang pertemananku
dengan mahasiswa di kampus-kampus luar kota atau bercerita tentang iklim gerakan
di sana.
Apa
urgent-nya sehingga saya harus menceritakan itu?
Berharap
nanti ada yang terprofokasi untuk mengikuti seperti apa yang kulakukan, Memang
ini cara klasik yang sering diterapkan para seniorku untuk membujuk
adik-adiknya.
Tapi
setidaknya setelah saya cerita, berharap dari mereka nanti ada keinginan untuk
lebih progres dalam berkarya, melampaui pencapaian prestasi mahasiswa luar kota,
ada kemauan lebih giat untuk belajar atau membaca. Setidaknya, bila nanti teman-temanku
hebat, tak cukup hanya
sekedar hebat di kandangnya sendiri, alias macan dalam kandang.
Macan
dalam kandang. Seperti yang saya saksikan hari-hari
ini pada sebagian teman di kampusku, masih juga ada yang sombong lantaran telah
khatam membaca lima buku filsafat, sesumbar
atas kemampuannya tentang debat agama, memamerkan kecakapan orasi yang isinya
hanya “omong kosong”, dan hanya mengukur suksesnya kegiatan dilihat dari kuantitas
peserta, serta seringnya
acara yang orientasinya hanya sekedar hore-hore,
dan parahnya lagi (tidak jarang) satu dengan yang lain saling jigal-menjegal.
Itu
yang saya kritik di lingkungan organisasi kampus. Padahal
lingkungan kampus kita tinggal di masyarakat dengan slogan “guyub rukun”. Tapi sayangnya sekedar
slogan.
Di
luar organisasipun saya belum berhenti mengkritik,
bukan karena alasan sakit hati. Lebih dari sepuluh kali saya merasa
dikecewakan, baik-baik mengajak berkenalan dengan mbak-mbak, dengan lembut aku
menyapanya; say hello, siapa tahu bisa menjalin keakraban dan paseduluran (bukan dalam konteks kepentingan
hormonal dan selangkangan lho), eh malah diacuhkan, seolah-olah (mungkin) aku ini
hanya dianggapnya sebagai lelaki yang lebih cocok menjadi berandal malam di bangku
terminal yang tak layak dikenalinya. atit
tau !!
Batinku,
“Berperadaban muda saja sudah congkak !!”
Sebenarnya, boleh saja berlagak congkak, asalkan juga
“sumbut” dengan prestasinya, juga boleh congkak asalkan juga diimbangi dengan sikap kerelaan untuk saling berbagi sama lain; entah berbagi pengalaman, entah berbagi karya, syukur-syukur
bila berbagi uang saat saya sedang kehabisan logistik di tengah perjalananku.
Sebab
tidak dipungkiri, di lingkungan kampus kita masih banyak yang membutuhkan
bantuan-bantuan tersebut, sebagaimana saya yang masih merasa bodoh ini, sangat
membutuhkan arahan dari anda yang budiman. Sayangnya saya selalu dicuekin. Maka
dari itu, saya selalu mendoakan supaya teman-teman mahasiswa lebih berkembang
dari sekarang. (Ada mailakat lewat
sambil bilang amin)
Saya tidak mengatakan jelek tentang lingkungan di kampusku. Yang merasa sekampus denganku, tolong “tahan kritik”
demi perbaikan kualitas. Dari pada sudah tidak pintar, gak mau
berbagi, sombong, menyebalkan,
eh hidup lagi !!!
Saya
memang belum pintar dan belum banyak berkarya, makanya saya belum berani
sombong. Aku nanti (mungkin) akan sombong setelah pinter dulu.(Ada syetan lewat sambil bilang amin)
Saya hanya ingin punya teman mahasiswa yang
lebih dari sekedar itu. Kayaknya kamu lebih
cantik deh kalau mau nurut
apa kataku.
Lantas, apa aktivis versiku?
Syarat
disebut aktivis yakni ketika memenuhi kriteria sebagai berikut, Syarat primer: Hafal lagu-lagu iwan fals
minimal tiga (1 sks), pernah mencoret mata kuliah (1 sks), pernah menjadi
panitia OSPEK (2 sks), minimal punya satu celana robek-robek (0,5 sks), pernah
berambut gondrong (1 sks), pernah tak mandi tiga hari berturut-turut (1 sks).
Syarat sekunder: pernah
molor kuliah (2 sks), pernah ikut demo (1 sks), tidak boleh punya pacar (4
sks), pernah ikut diklat di organisasi kampus (3 sks).
Hehehe,
Just Kidding. Bukan, bukan, bukan....
!!!
Itu
keceplosan. Akibat
seringnya mencampuradukkan
pengertian aktivis = organisasi, organisasi = aktivis. Kayaknya itu salah
kaprah. Tidak hanya sekedar mengikuti pelatihan dasar (atau diklat) organisasi,
kemudian menyebut dirinya sebagai masasiswa aktivis setelah terdaftar sebagai
anggota. Apa gunanya terdaftar sebagai anggota jika hanya numpang bubu’.
Menjadi
aktivis itu, siapa saja boleh. Siapa saja yang mau berbagi itu adalah aktivis – dalam konteks kebaikan.
Intinya sederhana, seandainya aku aktivis; yang penting cukup rajin belajar, jangan sombong dulu, mau merasa bodoh, mau berbagi dan
memberi dengan apa yang bisa kita berikan.
Itu saja dulu. Eh, plus rajin ibadah.
Saya
tidak hendak menuntut aktivis itu harus menjadi pelopor, sang penggerak,
pengabdi rakyat dan penyalur aspirasi masyarakat. Tidak pula harus menge-klaim
diri aktivis sebagai agent of change (garda
perubahan), agent of control. Itu semua agak omong kosong. Ada aktivis mau bekerja giat
menjadi agen pulsa saja itu sudah cukup.
Kalau
bisa sih lebih baik.
Sayangnya aku hanya anak pemungut ranting yang dibesarkan oleh keringat hasil penjualan batu, polos dan tidak tahu
banyak dunia aktivis. Saya hanya bisa berharap teman-temanku aktivis dan
mahasiswa pada umumnya lebih cap-cus
dari sekarang.
Pagi menunjukkan pukul 09.30 WIB. "Bangun-bangun !!!" Teriak teman membangunkanku. Ternyata aku menulis dalam keadaan setengah sadar.
Kamis, 06 Maret 2014
Fikri Mustofa, S. Pd. I (Sarjana Pemalu dan Ingah-ingih)
Comments
Post a Comment