Posts

Showing posts from January, 2014

Untuk Nona; yang Dilarang Keluar Malam Ini

Tidak hanya kamu saja, hal ini juga sering dialami oleh perempuan-perempuan lain. Dulu mereka sering meminta solusi kepadaku namun lama-kelamaan bosan juga menemuiku, setelah sadar tidak mendapatkan jawaban memuaskan dariku. Pikirku, “memang saya bukan pemuas, kog”. Mau dengarkan, silahkan. Mau tinggalkan, juga silahkan ! Namun untuk kali ini, saya benar-benar ingin kau dengar. Sebab, aku tidak yakin lagi, ada orang lain yang lebih sanggup untuk menceramahimu. Kecuali kamu hanya mendapatkan bawelan-bawelan yang membuat keriting telingamu serta cipratan ludah dari mulutnya yang pasti jauh lebih bau dari ludahku. Sebelumnya maaf nona manis, bila aku menggurui kamu. Nasehat ini hanya berlaku bagi perempuan yang yakin bahwa jalan tempuhnya benar menurut hati nuraninya. Semoga jalan tempuhmu termasuk yang dalam kategori sesuai hati nuranimu. --- Sebagai perempuan waras, mungkin pernah terlintas dibenakmu, cita-cita hebat. Mungkin juga sering memimpikan dapat berkiprah sedemikian ge...

Mereka tak Sehebat Ayahmu, Nak...

Berawal dari ranjang lusuh inilah, Ibuku meyakini kelak akan terlahir orang hebat. Anak itu mungkin secerdas Einstein dan Edison, namun tidak sesombong Fir’aun. sekuat Daud namun tidak sekejam Hitler, melainkan seramah budak Bilal. Sekaya Sulaiman namun tidak segila Qorun, melainkan sesederhana Ayub. Giliran ayahku berucap. Ibu boleh saja bermimpi dan gantungkan harapanmu melebihi tingginya Himalaya. Akan tetapi…… Sehebat apapun anakmu kelak. Namun apakah sehebat ayahnya. Anakmu nanti, tangguhkah dia ketika menghadapi terik sebagaimana ayahnya ketika melawan matahari, saat menuai panen cengkeh dari Hutan Lungur Tipis, kemudian membawanya pulang menyusuri hutan Ngliwong yang rimba, tebing hutan Mbelang yang curam dan jalanan Dang Klutuk yang licin berlumut. Anakmu nanti, sekuatkah aku Ketika membawa gelondongan kayu sebagai bahan bakar masak nanti sore. Setekun aku kah, yang sabar mengumpulkan kerikil sedikit demi sedikit, hingga terbentuk ruma...

Cintaku Ada Walau Tak Hadir

Kau bilang, datanglah Datanglah hanya untukku, bukan untuk yang lain Setidaknya saat senja nanti kau telah disini Berceritalah tentang apa saja Asal kau ada disini Ku mohon sayang, datanglah Semoga bisa menghibur kekalutan hatiku Percayalah kau akan ku dengar Yakinlah aku akan mengangguk atas semua pintamu Sayang yang disana, mengertikah mauku. Manis, kau perlu tahu bahwa aku tak bisa datang Saat ini, aku tak bicara banyak disampingmu Bukan aku enggan melangkahkan kakiku Bukan pula karena, aku tak mementingkan dirimu Ketahuilah cinta itu tak hanya bercerita di bisik telinga Ketahuilah aku disini untukmu, dan untuk anak-anakmu nanti. Itulah semua alasan, kenapa duniaku harus ada disini. Jika kita saling yakin, Cinta itu ada, tak mesti selalu saat kita berpegangan tangan saja Ada itu, tak memulu saat kau bisa mencubit pipi atau menjambak rambutku Cinta itu tak perlu itu semua Coba bersujudlah, dan tanyakan kepada Tuhanmu Benarkah ka...

Cukup Sekali Menjadi Manusia Pejuang; Sebuah Komentar

Sampai saat ini, saya membenarkan, bahwa pejuang yang baik itu tak pernah mengharap orang lain untuk mencatat sejarahnya. Pula tak menghabiskan waktu tua hanya dengan membolak-balikkan buku orang lain, berharap ada yang mau menulis tentang riwayat perjuangannya. Di halaman berapa namanya dicatat. Tentang eksistensi masa mudanya. Pejuang yang tahu diri tidak menanyakan sejarah tentang dirinya. Jangan pernah merisaukan, apakah cerita hidupnya akan ditulis oleh cucunya atau tidak. Dia hanya mengajarkan kepada cucunya, tentang bagaimana menjadi manusia yang tahu diri. Mengajarkan bagaimana menjadi manusia yang sudi MENENGOK dan tahu sejarah. Manusia yang siap menghadapi hidup yang lebih GETIR serta tak enggan mencicipinya. Manusia yang selalu SABAR menuai buah kemenangan. Manusia yang bisa menyelaraskan NADA sumbang sekalipun, menjadi lantunan nada yang mendamaikan. Manusia simpatik yang tak jijik untuk MEMAHAMI manusia lain. Manusia yang tidak hanya ingin mendengar ten...

Sebuah Komentar; Ketika Takut Pagi

Ya, pagi itu memang lebih nyata. Harga keindahanya sebanding dengan harapan kita saat masih malam sebelumnya, bahkan pagi jauh lebih mahal. Demikian, kata orang yang berharap lebih terhadap pagi. Namun tidak sedikit orang yang pada kenyataannya tidak siap menghadapi pagi. Sia-sia bukan ? Kedatangannya kita tunggu-tunggu sejak malam, namun menjadi tidak berarti begitu saja. Lantaran kita gemetar bersahabat dengannya. Tuhan, ampunilah aku yang sering mengingkari pagi-Mu. Sudah seharusnya aku malu, aku yang tidak merawat hadiah pagi-Mu. Begitulah, traumatik dan rasa bersalah itu kian membukit setinggi gumuk-gumuk di Kota Jember. Hehehe. Pagi menakutkan? Maka pagi adalah pobia. Hingga kita akan mengemis kepada Tuhan, untuk tidak segera mendatangkan pagi. Menyuap sang bulan agar malas untuk pulang. Serta mendambakan malam agar terus berbintang. Bisik seorang berandal dalam lantunan lirik Bang Iwan, “Jangan, jangan pagi kau hadirkan biarkan malam terus berjalan. Jangan, jang...

Cinta itu Pemicu Kesadaran akan Kemanusiaan

Rupanya kamu suka dengan perempuan. Begitu sindir teman terhadapku, setelah mendengar celotehan tentang kagumku akan keanggunan seorang perempuan yang kukenali di Kota Jember, persinggahanku dalam perjalanan dari Pulau Lombok - dalam urusan ­ber- persma . Setelah sekian bulan, bahkan sekian tahun, teman-teman selalu mempertanyakan kenormalanku, dikiranya homo. Lantaran saya tak pernah diketahui pacaran selama kuliah. Sejak pertemuanku melalui percakapan yang dingin dan kaku itu, bagaimana mungkin saya suka dengan perempuan yang baru kukenal beberapa jam saja. Santun, lembut, anggun, cantik dan terlihat memiliki intelektualitas lebih. Serta ketika saya perhatikan dari aura tutur lakunya, ciri-ciri perempuan sholehah ada pada dirinya. Hehehe. Persis seperti kriteria perempuan impianku ( future wife ). Kayaknya cocok sebagai pasangan sharing tentang keluarga, karir, negeri dan matematika. Hmmm. Terpaut rindu akhirnya. Cie-cie. Seolah-olah mengulangi ceritaku saat ABG dulu, saat ...

Spekulasi dengan nama baru

Nama yang sudah terlanjur di cap bobrok, maka sampai selamanya akan tetap bobrok. Begitulah pengakuan banyak orang - kebanyakan yang saya dengar. Entah itu sistem organisasi ataupun reputasi pribadi. Mungkin ini yang dimaksud oleh kakekku tentang aib. Apa yang terbenak oleh masyarakat ketika mendengar nama Indonesia. Kalahan, miskin, korup, dan lain-lain. Begitu bukan? Sekalipun negara ini telah dibenahi dengan berbagai regulasi dan segudang peraturan yang jumlahnya membuat nafsu makan sarapanku semakin gak enak. Sampai-sampai, banyak diantara yang berpikiran fundamental untuk merubah nama Indonesia. Entah dengan nama apa saja. Asalkan jangan IndONEsia. Terserah. Baik itu Outnesia, IndTWOsia, IndTHREEsia, ataupun Indonecieeaaa. Silahkan, asalkan nama baru. Entah logis ataupun tidak menurut persepsi kalian terkait usulan saya tersebut. Yang jelas, kita tidak memungkiri bahwa masyarakat butuh hal yang baru. Maksud saya, silahkan persiapkan nama baru untuk mengganti nama...