Cinta itu Pemicu Kesadaran akan Kemanusiaan
Rupanya kamu suka dengan perempuan. Begitu sindir teman
terhadapku, setelah mendengar celotehan tentang kagumku akan keanggunan seorang
perempuan yang kukenali di Kota Jember, persinggahanku dalam perjalanan dari
Pulau Lombok - dalam urusan ber-persma. Setelah sekian bulan, bahkan
sekian tahun, teman-teman selalu mempertanyakan kenormalanku, dikiranya homo. Lantaran
saya tak pernah diketahui pacaran selama kuliah.
Sejak pertemuanku melalui percakapan yang dingin dan kaku
itu, bagaimana mungkin saya suka dengan perempuan yang baru kukenal beberapa
jam saja. Santun, lembut, anggun, cantik dan terlihat memiliki intelektualitas
lebih. Serta ketika saya perhatikan dari aura tutur lakunya, ciri-ciri perempuan
sholehah ada pada dirinya. Hehehe. Persis seperti kriteria perempuan impianku (future
wife). Kayaknya cocok sebagai pasangan sharing tentang keluarga, karir,
negeri dan matematika. Hmmm.
Terpaut rindu akhirnya. Cie-cie. Seolah-olah mengulangi ceritaku
saat ABG dulu, saat masih duduk di bangku SMP - SMA. Tentang apa yang biasa disebut
sebagai monyet bercinta-an itu, eh cinta monyet-an, atau cinta usia 17 an.
Cinta yang muncul sebagai pertanda saya sudah pada fase akil baligh. Kerap ditandai
dengan seringnya mimpi basah setiap pukul tiga pagi. Dimana saya sering kacau mengartikan,
bahwa intensitas mimpi basah itu adalah indikator kematangan akan kedewasaan.
Lantas, namanya cinta apa jika itu dirasakan oleh orang usia
23 nan? Kebutuhan yang manusiawi kah? Terkadang saya masih merasa bodoh dalam
hal ini. Apalagi saya yang tidak pernah tuntas belajar tentang psikologi perkembangan
remaja. Kalaupun di buku-buku ada teori semacam ini, maka saya jamin, pasti
tidak relevan dengan perkembangan diri saya secara spesifik.
Jujur akui saya menyukai perempuan itu tadi, yang saya malu
untuk menceritakan banyak. Namun, dalam hal ini saya tidak mau membahas wanita dan
tentang sukaku padanya. Sebab bisa jadi, perasaan itu palsu dan pudar seiring
berjalannya waktu ketika saya tidak menjalin kedekatan, terlebih bisa pudar
manakala menemui perempuan lain yang lebih mengagumkan – meskipun saya tidak
gampang kagum dengan sembarang wanita.
Saya heran saja, kenapa selalu ada kegalauan yang muncul
seirama dengan keinginan kita terhadap ini dan itu. Ini itu. Entah itu
kegalauan tetang, dinikahi oleh siapa wanita itu nanti, akankah saya nanti bisa
menemui perempuan yang setidaknya seperti dia, serta apa yang musti saya persiapkan
untuk dapat mewujudkan apa-apa
Dari sinilah, kegalauan satu bertemu dengan kegalauan yang
lain, membentuk super-supra galau full. Tentang keinginan bapakku
yang ingin segera melihatku mengenakan topi wisuda, tentang kegalauan persoalan
bisnis yang masih merintis – dan merintih, tentang kebahagiaan keluarga,
tentang cita-cita untuk berbuat baik kepada banyak orang.
Cinta, bagiku sering menjadi pemicu terbukanya jalan menuju kesadaran.
Kesadaran bahwa saya memiliki tanggungjawab yang besar juga, tanggungjawab yang
bukan hanya persoalan selesainya urusan pribadi - ego. Orang lain boleh mengatakan
bahwa cinta itu membutakan, namun saya justru merasakan bahwa cinta itu
menyadarkan. Betapa pentingnya saya untuk berbuat lebih banyak.
Kegalauan itu, sudah seharusnya menjadikan manusia lebih
produktif daripada hari-hari biasanya. Sebab, saat dimana galau tiba adalah
momentum Tuhan mengisyaratkan manusia untuk berpikir.
Namun tidak bagi kebanyakan pemuda saat ini – setahu saya. Kegalauan justru mematikan nalar-nalar
produktif. Stagnan dalam kinerja, autis, mandul dalam berpikir serta tumpul dalam
merasa. Menyalahkan kekalutan hati sebagai biang kerok pasifnya langkah
berpikir.
Bila sudah tahu begini, betapa pentingnya kegalauan. Saya
akan selalu memohon agar Tuhan selalu melimpahkan rasa galau kepadaku, dengan
syarat jika itulah yang justru dapat memacu semangatku untuk menggapai apa yang
selalu saya mimpikan.
Betapa hambarnya hari-hari kita, tanpa setitikpun ambisi
untuk berbuat lebih baik atas banyak hal. Kita butuh ambisi. Meskipun
seringkali keberadaan ambisi itu numpang lewat kegalauan. Galau itu mewarnai
hidup manusia. Bersyukurlah kamu yang galau, dan merugilah kamu yang menyiakan
produk Tuhan yang satu ini, galau.
God Always Listen And Understanding (Galau)
Oleh : Fikri Mustofa
Comments
Post a Comment