Menjadi Penulis Tanpa Bayaran
Kepada siapa lagi pesan ini saya
tujukan, kalau bukan kepada temanku mahasiswa. Sebenarnya saya (agak sedikit)
malu menulis ini, malu dibaca oleh penulis senior kawakan yang sering mengguruiku,
tapi saya yakin (di luar itu) masih banyak yang membutuhkan suntikan informasi.
Penulis tanpa bayaran, saya banyak
menjumpainya. Motifnya sederhananya, kemungkinan pertama, karena
benar-benar mau berbagi. Kedua, tidak ada kegiatan lain kecuali menulis.
Ketiga, ajang latihan menjadi penulis hebat sekalian teskis respon
seberapa tertarik pembaca. Keempat, dan sebagainya. (Istilah “dan
sebagainya” itu sebenarnya hanya bentuk ketidakmampuan penulis untuk
menganalisis lebih detail lagi. Hehe)
***
Tidak mudah menjadi orang yang gampang
berbagi tulisan. Yang pandai sekalipun belum tentu rela untuk membagi ilmunya,
sebagaimana orang kaya yang tidak semuanya dermawan membagi kekayaannya.
Menjadi penderma karya itu memang perlu
latihan, dari sekarang. Tak harus menunggu jadi penulis hebat dulu, berbagi
informasi juga tak harus menunggu jadi wartawan dulu. Bila anda niat berbagi menunggu
setelah jadi penulis hebat dulu, maka saya jamin selamanya tidak akan pernah
berbagi informasi kepada orang lain.
Alasan lain tak mau berbagai yakni malu
bila tulisannya di cap tak berkualitas, tak rela bila orang lain hanya sebagai
penikmat informasi yang telah susah payah didapatnya, mempermasalahkan HAKI (hak
atas kekayaan intelektual), dan sebagainya (dan sebagainya lagi, hehe)
Era kemajuan tehnologi saat ini sudah sangat
mendukung/mempermudah siapa saja untuk berbagi karya, baik itu penulis senior,
penulis amatir, (bahkan bukan penulispun) semuanya berhak untuk saling berbagi.
Dengan fitur tehnologi yang semakin lengkap seharusnya tidak ada alasan lagi untuk
membantah.
Tentu anda tak asing dengan istilah citizen
journalism (jurnalisme warga) ? Masyarakat lapisan manapun diperbolehkan
untuk menyampaikan kabar kepada publik secara bebas asal tetap
bertanggungjawab; baik bertanggung jawab secara moral, etika (dan karma,
hahaha).
Yang biasanya citizen journalism paling
sering menyampaikan informasinya via jejaring sosial, via koneksi internet. Tapi,
tanpa koneksi internetpun juga bisa saja, misalnya melalui selebaran tulisan
cetak yang dibagi-bagikan.
Informasi disekitarnya yang dianggap
penting untuk diketahui pubik, segera mereka share, terpanggil atas
dasar kemanusiaan dan tak mengharapkan bayaran.
Citizen journalis (jurnalisme warga) itulah, yang justru sebenarnya
memiliki kadar keaslian kabarnya lebih tinggi, dan lebih aman dari campur
tangan kepentingan ruang redaksi sebagaimana yang sering dijumpai di pers umum.
Citizen journalism lebih murni daripada media umum seperti televisi atau
koran-koran yang kadang terlalu mendramatisir berita bahkan jauh dari
independesi.
Ditengah ketidakpercayaan masyarakat
terhadap media umum akibat seringnya manipulasi informasi yang dikabarkan, maka
jurnalisme warga adalah alternatifnya. Lebih cenderung (masih) idealis
mengakabarkan tanpa ada unsur tendensius. (Paling-palin kepentingannya cuma
sebatas narsis saja, hehe, tak masalah).
Sehingga, sering teman-temanku pers
mahasiswa berani sesumbar, “satu-satunya
harapan kebenaran hanya ada pada wartawan tanpa bayaran”.
***
Alasan kedua menulis, seperti yang saya
katakan sebelumnya, yakni tidak ada kegiatan lain selain menulis. Biasanya
begitu, saya tidak membicarakan yang tidak begitu, hehehe. Memang ada yang
pandai membagi waktu, tapi kan tak semuanya pandai.
Ah, pembahasan ini singkat saja, karena
kurang prinsipil.
***
Alasan ketiga menulis tanpa bayaran, yakni
sebagai ajang latihan serta mengukur seberapa minat pembaca merespon
karya-karya tulisannya. Apapun respon pembaca, ia abaikan, asalkan terus
menulis dan terus. Orang seperti ini akan berupaya selalu untuk belajar menulis
tanpa menghiraukan kritik pembaca yang justru melemahkan semangatnya.
Istilahnya “Miceki, mbudeki, rai gedhek”. Kecuali kritik masukan
positif, tentu harus siap diterima sebagai bahan evaluasi.
Boleh sedikit cerita? Saya cukup mengenal
teman-teman aktifis pers-mahasiswa di berbagai perguruan tinggi. Mereka sering
mengemukakan bagaimana getir pahit selama belajar di lembaganya untuk
menerbitkan majalah kampus, buletin (dan website). Mulai dari mencari bahan
berita (reportase) hingga akhirnya majalah selesai. Namun, majalah yang dengan
susah payah digarap tersebut tak selamanya berakhir menggembirakan.
Bagaimana tidak !! Sudah mencari berita
sendiri, ditulis sendiri, diedit sendiri, dilayout sendiri, dicetak sendiri, pada
akhirnya hanya dibaca sendiri, sebab tidak banyak mahasiswa lain yang tertarik
untuk membacanya. Seolah-olah apa yang susah payah dikerjakan tersebut hanya
sekedar onani, istilah familiarnya: persma onani.
Pada kondisi seperti ini, memang tak boleh
menyalahkan yang lain kurang minat baca, melainkan intropeksi diri apakah
tulisan kita memang sudah nyaman dibaca atau belum. Demi perbaikan.
Prinsip orang ini, dengan rajin latihan saja masih
sulit menulis, apalagi bila tidak rajin, apalagi bila tidak sama sekali. Saya
yakin penulis hebat sekalipun, mulanya pasti sering ditolak-tolak oleh penerbit,
ditolak oleh perusahaan media dan penolakan-penolakan lain. Dengan sering
menulis saja, pencapainnya hanya sekedar itu, apalagi bila tidak sering latihan.
Memang, orientasi menulis tidak harus
melulu ke arah profesi. Kalaupun kesampaian, ya itu lebih baik. Cukup dianggap bonus
dan diamini saja, sambil menyebut alhamdulillah.
***
Motif keempat, yakni “dan sebagainya”
itu tadi.
“Dan sebagainya” itu maksudnya, anda
akan lebih paham lagi bila anda mencoba terjun di dunia ini. Sedikit demi
sedikit pasti akan tahu seiring perjalanan kita mengarunginya. Entah dengan
cara bertautan dengan penulis hebat, para wartawan, mengikuti
pelatihan-pelatihan, baca buku-buku teori yang berbicara tentang kepenulisan,
dan sebagainya (dan sebagainya lagi, hehe)
Akhir pesan
Butuh kerelaan untuk
saling berbagi. Semoga saya dan anda selalu dikuatkan istiqomah-nya, upaya
perjuangan kita tak sia-sia dan menuai kemanfaatan walaupun kita tak tahu apa kemanfaatan
itu. Akhir pertanyaan, apakah anda sudah siap menjadi penulis tanpa bayaran?
Kepatihan, 08 Maret 2014
Oleh Fikri Mustofa, SSb (Sarjana Sok Bijak)
Comments
Post a Comment