Aku di Rumah Janda

(Cerita dewasa / Tak Perlu Bimbingan Orangtua)


Bila terjebak kehujanan di rumah janda muda kembang desa, pasti anda bergembira saja bahkan berlama-lamapun tak apa, seraya dalam hati berdoa, ya Tuhan, aku adalah hambamu yang pertama kali bersyukur bila karunia hujanmu ini Engkau limpahkan lebih lama, limpahkanlah air dari langit-Mu lebih deras lagi, lebih kencang lagi. (Bilang amiin sambil ketawa-tawa).

Namun bagaimana bila anda terjebak kehujanan di rumah janda tua, dengan kondisi rumah yang cukup memprihatinkan? (Maaf) becek, sempit, lusuh, bau, pengap, sebagaimana yang saya alami kemarin lusa sore, terjebak dalam deras hujan yang tak kunjung reda, hingga kamipun berlarut dalam sebuah percakapan yang cukup mengharukan.

Ya …kisahnya bisa dikatakan mirip-mirip dengan program di televisi itu lah, jika aku menjadi, orang pinggiran, dan sebagainya. Sama-sama mengharukan. Bedanya, program tayang televisi itu bisa memberikan santunan serta pesangon di akhir acaranya, sedangkan saya tak bisa memberikan apa-apa selepas percakapan usai.

Semoga janda tua itu tidak menganggap saya sebagai orang yang hanya mengeksploitasi cerita kesedihannya.

Janda tua itu Irah (bukan nama sebenarnya), warga Kecamatan Kampak-Trenggalek (alamat lengkap off the record). Kira-kira berusia kepala lima, tinggal berempat yakni dengan ketiga anaknya, mereka ditinggal pergi oleh suami/ayah selaku kepala rumah tangga. Sehingga kini sang Ibu lah yang terpaksa sebagai tulang punggung keluarga.

Memang sudah tua, namun anak-anaknya (rata-rata) masih dibawah usia, belum memungkinkan untuk diajak kerja keras. Kondisi ini memaksa Irah untuk bekerja banting tulang, sebab menyangkut persoalan penyambung nyawa dan membiayai sekolah anak-anaknya.

Pencaharian ia sehari-hari adalah berdagang dengan sedikit modal usaha yang ia miliki, yang hanya cukup untuk membelanjakan dagangan berupa kebutuhan dapur warga sekitar. Sebisa mungkin usaha ini terus dipertahankan, meskipun dagangannya nyaris sepi pengunjung, lantaran kurangnya modal untuk memenuhi variasi kebutuhan rumah tangga pelanggan secara lengkap. Pokoknya begitulah, intinya usahanya nyaris sepi pengunjung.

Ibu ini tinggal di kawasan yang lumayan terisolir dari keramaian pasar, sekitaran tebing pegunungan perbatasan antara Kecamatan Watulimo dan Kampak, Trenggalek. Untuk menuju ke pasar pusat kecamatan, ia harus menempuh jalan setapak sekitar lima kilo meter dulu sambil memanggul barang dagangannya, dan dilanjutkan dengan naik transportasi umum sejauh sepuluh kilo meter, mungkin lebih. Bahkan, bila ongkos pas-pasan, tak jarang Ibu ini harus jalan kaki dari rumah sampai pasar demi menghemat pengeluaran belanja.

Seberapapun labanya, itulah yang disyukuri.

Mungkin cara saya saya menulis (mendeskripsikan) seputar kehidupan janda ini kurang menyentuh ya, kurang mengena pada bagian human interest-nya ya, kurang dramatis ya? Memang iya, karena bagiku ini bukan persoalan lomba baik-baikan mengarang cerita, bukan baik-baikan membuat naskah yang dramatis, bukan persoalan baik-baikan menulis dengan tata bahasa yang benar, tapi ini adalah persoalan nyawa, bagi janda miskin.

Saya bukan orang yang mengerti data real lapangan, berapa jumlah janda miskin di Indonesia versi pemerintah atau Badan Pusat Statistik (BPS) itu. Yang jelas, dalam pikir saya, kira-kira di negeri ini masih begitu banyak lagi wanita-wanita tak berdaya dengan nasib serupa atau bahkan lebih tragis lagi.

Janda ini (mungkin) masih mendingan bila dibandingkan dengan janda-janda miskin yang terlantar di angkuhnya perkotaan. (Berani-beraninya saya mengatakan mendingan? ya saya berani), Setidaknya ia masih mendingan tinggal di pedesaan yang tak angkuh-angkuh amat, masih diselamatkan oleh keramahan sosial.

***

Hujan mulai reda, sayapun pamitan dengan perasaan malu, keluar rumah.

Saya amati di depan rumahnya ada beberapa poster partai calon legislatif, rata-rata kampanye dengan slogan-slogan dengan tema kesejahteraan, pendidikan, ekonomi kerakyatan, pengembangan usaha dan variasi bahasa kampanye lainnya.

“Jancuk !!”

“Di bawah baliho kampanyemu itu Su, jelas-jelas ada orang  (janda) yang membutuhkan, apa engkau pikir mereka sabar bertahan hidup sampai menunggu engkau menang nanti”. (Begitu misuh dalam hatiku, yang sebenarnya saru diungkapkan).
Kampanye dengan bicara tentang kesejahteraan? Ibu ini menurutku masih jauh dari sejahtera. Kampanye dengan bicara tentang pendidikan, anak-anak kecil dari janda ini sekolah dengan biaya pas-pasan. Kampanye dengan bicara tentang pengembangan usaha dan ekonomi kerakyataan, ibu ini jelas-jelas membutuhkan modal usaha.

Saya tak mau emosiku terus berlanjut, bergegas meninggalkan rumah itu menuju pulang. Mungkin memang begitulah bahasa kampanye, terpaksa memaklumi.

Sungguh (merasa) betapa tidak bergunanya diri ini, ketika melihat orang yang membutuhkan seperti janda tua dia, namun tak berdaya untuk membantunya. Seolah-olah tidak ada rasa dosa yang besarnya melebihi ketidakberdayaan rasa dosa karena tak bisa apa-apa. Apalagi yang bisa disombongkan, bahkan untuk tertawapun malu.

Itu yang saya rasakan ketika berada di rumah janda macam mereka. (Mungkin) anda pernah mampir juga di rumah janda mana gitu? apa yang anda rasakan ?

Trenggalek, 9 Maret 2014
Oleh Fikri Mustofa, M.Pd (Mahasiswa Paling Berdosa)

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Rintihan Aktivis Hormonal; Kisah Haru Si Bekos

Menjadi Penulis Tanpa Bayaran