Cukup Sekali Menjadi Manusia Pejuang; Sebuah Komentar


Sampai saat ini, saya membenarkan, bahwa pejuang yang baik itu tak pernah mengharap orang lain untuk mencatat sejarahnya. Pula tak menghabiskan waktu tua hanya dengan membolak-balikkan buku orang lain, berharap ada yang mau menulis tentang riwayat perjuangannya. Di halaman berapa namanya dicatat. Tentang eksistensi masa mudanya.

Pejuang yang tahu diri tidak menanyakan sejarah tentang dirinya. Jangan pernah merisaukan, apakah cerita hidupnya akan ditulis oleh cucunya atau tidak. Dia hanya mengajarkan kepada cucunya, tentang bagaimana menjadi manusia yang tahu diri.

Mengajarkan bagaimana menjadi manusia yang sudi MENENGOK dan tahu sejarah.
Manusia yang siap menghadapi hidup yang lebih GETIR serta tak enggan mencicipinya.
Manusia yang selalu SABAR menuai buah kemenangan.
Manusia yang bisa menyelaraskan NADA sumbang sekalipun, menjadi lantunan nada yang mendamaikan.
Manusia simpatik yang tak jijik untuk MEMAHAMI manusia lain.
Manusia yang tidak hanya ingin mendengar tentang keinginan dirinya saja, YANG BANYAK DISEBUT sebagai EGOISME.
Sebab menjadi manusia itu hanya SEKALI saja, TIDAK ada yang KEDUA ataupun KETIGAnya.

Comments

Popular posts from this blog

Aku di Rumah Janda

Rintihan Aktivis Hormonal; Kisah Haru Si Bekos

Menjadi Penulis Tanpa Bayaran