Mereka tak Sehebat Ayahmu, Nak...
Berawal dari ranjang lusuh inilah,
Ibuku meyakini kelak akan terlahir orang hebat.
Anak itu mungkin secerdas Einstein dan Edison,
namun tidak sesombong Fir’aun.
sekuat Daud namun tidak sekejam Hitler,
sekuat Daud namun tidak sekejam Hitler,
melainkan seramah budak Bilal.
Sekaya Sulaiman namun tidak segila Qorun,
melainkan sesederhana Ayub.
Giliran ayahku berucap.
Ibu boleh saja bermimpi dan gantungkan harapanmu melebihi
tingginya Himalaya.
Akan tetapi……
Sehebat apapun anakmu kelak. Namun apakah sehebat
ayahnya.
Anakmu nanti, tangguhkah dia ketika menghadapi terik
sebagaimana ayahnya ketika melawan matahari, saat menuai
panen cengkeh dari Hutan Lungur Tipis,
kemudian membawanya pulang menyusuri hutan Ngliwong yang
rimba,
tebing hutan Mbelang yang curam dan jalanan Dang Klutuk
yang licin berlumut.
Anakmu nanti, sekuatkah aku
Ketika membawa gelondongan kayu sebagai bahan bakar masak
nanti sore.
Setekun aku kah,
yang sabar mengumpulkan kerikil sedikit demi sedikit,
hingga terbentuk rumah tinggal kita.
Ibu,
Hari ini sudah banyak orang pandai namun tidak hebat,
Lihatlah Jakarta dan orang-orangnya
yang di bawah gedung kura-kura itu.
Kurang pandai apa mereka,
Buktinya mampu menjadi pemenang dari sejuta pesaing yang
lain,
Merekalah yang menaklukkan demokrasi
Merekalah yang menelan mineral di Papua,
Dan sebentar lagi akan membuat sirkuit internasional di
Telok Benoa.
Tapi, mereka tetap saja tidak sehebat aku.
Menurutmu hebat aku atau mereka, Bu.
Jika anakmu nanti sudah bisa kau ajak ngomong.
Coba kau tanya,
Memilih . . . . menjadi mereka yang pandai,
Atau memilih . . .
ingin menjadi ayahnya yang hebat.
Jogja, 22 Januari 2014
Fikri Mustofa
Comments
Post a Comment