Untuk Nona; yang Dilarang Keluar Malam Ini

Tidak hanya kamu saja, hal ini juga sering dialami oleh perempuan-perempuan lain. Dulu mereka sering meminta solusi kepadaku namun lama-kelamaan bosan juga menemuiku, setelah sadar tidak mendapatkan jawaban memuaskan dariku. Pikirku, “memang saya bukan pemuas, kog”. Mau dengarkan, silahkan. Mau tinggalkan, juga silahkan !
Namun untuk kali ini, saya benar-benar ingin kau dengar. Sebab, aku tidak yakin lagi, ada orang lain yang lebih sanggup untuk menceramahimu. Kecuali kamu hanya mendapatkan bawelan-bawelan yang membuat keriting telingamu serta cipratan ludah dari mulutnya yang pasti jauh lebih bau dari ludahku.
Sebelumnya maaf nona manis, bila aku menggurui kamu. Nasehat ini hanya berlaku bagi perempuan yang yakin bahwa jalan tempuhnya benar menurut hati nuraninya. Semoga jalan tempuhmu termasuk yang dalam kategori sesuai hati nuranimu.
---
Sebagai perempuan waras, mungkin pernah terlintas dibenakmu, cita-cita hebat. Mungkin juga sering memimpikan dapat berkiprah sedemikian gemilang. Sebagaimana perempuan lain yang pernah ditokohkan dalam dongeng nusantara, bahwa ada serentetan nama-nama perempuan yang terbukti bisa lepas dari belenggu-belenggu dominasi yang mengkerdilkan martabatnya, serta tokoh perempuan dunia yang memiliki peran yahud dan jos gandos.
Dalam konteks era-modern hari ini, ya setidaknya bebas bersaing dengan lekaki sekalipun dalam semua level urusan. Partner bisnis, rival politik, lawan diskusi dan sebagainya dan sebagainya dan sebagainya.
Kalau kamu tidak pernah memimpikan menjadi perempuan yang lebih hebat lagi daripada sekedar sekarang ini, mana mungkin kamu mau ditunjuk untuk menjadi ketua ini itu, menjadi panitia ini itu, menjadi juru ini itu, menjadi babu ini itu. Padahal kau tahu pada akhir pengabdianmu hanya diberi penghargaan “tepuk tangan” (bila beruntung), terlebih bila sial ya dihadiahi “caci maki” atas pertanggungjawaban kinerjamu, oleh anak buahmu  yang kompak menumbalkanmu.
Getir pahit perjuanganmu untuk merelakan diri menjadi pembantu umum sekalipun itu, tidak lain hanya sebagai rasa keinginanmu yang besar untuk meniti kiprah kemudian yang lebih oke. Jujur atau tidak, hayo? Kau rela jatuh terguling-guling itu, bukan lain karena diiringi oleh harapan ideal, bahwa semua itu kau yakini dapat menghebatkanmu.
Dongeng bahwa tidak ada nabi dan wali agung dari kalangan perempuan yang disejarahkan, tidak juga membuat ciut nyalimu. Meskipun maksud dari nasehat ini bukan berarti aku memintamu menjadi nabi-nabian yang (sok) menjadi pahlawan kemalaman, menganggap kawan-kawan sebagai domba-domba tersesat yang harus diselamatkan. Bukan itu maksudku.
Maksudnya. Ayolah perempuan manis, merdekalah dengan sebenar-benarnya kemerdekaan. Tidak hanya bermain merdeka-merdekaan. Tidak hanya menerima ketidaknyamanan apapun namun menggerutu dibelakang. Cukup selesai disini saja hidup dalam kepura-puraan.
Hidup itu butuh ketegasan. Hidup itu indah dan mudah kog (apalagi jika kamu patuh pada fatwa Mario Teguh, hehehe).
Bolehkah sebelumnya saya mengutaraka sedikit referensi, sekedar referensi, yang kamu tidak harus mematuhinya. Begini, jika padangan pribadi saya yang (insya Allah) pas dalam keadaan waras, memang suka dengan perempuan yang hebat namun tidak sombong, setia walaupuns punya banyak pilihan, bersahaja padahal luar biasa, ramah padahal bermental pemenang. Ejawentahnya ada pada sifat berikut : perempuan mau belajar giat, pekerja giat, santun, solutif, penggagas ide, inspiratif, dan yang tidak kalah penting yakni penyanyag, dan lain-lain.
(Diatas tadi saya bilang pas keadaan waras. Eh, malah… kenyataannya omongan saya tetap ngelantur juga ya. Hehe.. ) Biarpun ngelantur, coba pahami sekali lagi, adakah dari harapan saya yang bla bla bla itu tadi mengarah pada kecenderungan untuk mengkerdilkan martabatmu sebagai perempuan. Menurutku tidak ada. Bukankah semuanya itu untuk tujuan baik si perempuan bersangkutan serta demi kenyamananku yang tak bosan-bosannya ingin selalu memandangi keanggunanmu.
Memang, kamu memiliki kaidah tersendiri untuk mendefinisikan arti kemerdekaan pribadimu. Silahkan ejawentahkan sendiri.
Dalam hal ini, mungkin ada kaitannya dengan keinginan orangtua yang hendak mencetak masa depanmu. Indikasinya bisa dilihat dari tuturan mereka yang barangkali engkau anggap sebagai bawelan yang mengekangmu. Mereka (orang tuamu) pasti mempunyai kriteria tersendiri tentang “anakku perempuan yang baik itu begini lho”.
Kriteria itulah yang hendak dilekatkan pada dirimu. Sayangnya, kebetulan saat ini kamu berat untuk menyangganya, bahkan bertolak belakang dengan gagasan pribadimu.
Engkau tidak harus menolak mereka, daripada dikutuk jadi batu, kan ngeri. Namun ini ada beberapa penguatan.
Jika yang kamu lakukan adalah sebuah kebenaran, maka lakukan terus jalanmu. Sebab kebenaran itu tidak membutuhkan pembenaran. Terjanglah jalanmu. Inilah yang dimaksud dengan hidup itu perlu ketegasan. Sekali lagi, jika yang kau lakukan adalah kebenaran, kau tidak perlu mencari alasan-alasan pembenaran. Hendak beralasan apapun, bila tidak susuai dengan kejujuran maksud citamu, tetap akan dicap sebagai alasan bualan alias alibi. Bahkan orangtuamu sudah cukup berpengalaman dan tidak termentahkan, pikirnya “sak ombo-ombone alas kumitir, paling yo iseh tetep ombo alasanmu”.
--------
Berapa hari kamu dilanda resah hanya untuk mendapatkan “pembuktian” yang bisa disuguhkan kepada orangtuamu, agar memiliki kepercayaan lagi terhadapmu. Niscaya bukti-bukti itu akan datang dengan sendirinya, tanpa kamu jemput sekalipun. Dengan syarat, bahwa apa yang tempuh selama ini adalah benar menurut cita nuranimu.
Persoalan yang sering muncul yakni ujian akan kesabaran, saat menunggu hari-hari pembuktian itu datang. Di fase inilah sulit sekali saling memaklumi antara orang tua dan anak. Keteguhan jalanmu benar-benar diuji. Wanita lain sering mengobral komitmen sambil bilang “plisss bu, pliss pak, pasti akan saya buktikan”.
Sebagian wanita yang lain lagi, memilih pasrah pada kondisi yang dianggapnya lebih aman, menikah. Hidup dalam kenyamanan, sebab beban esok sudah ditanggung oleh suami, terutama kebutuhan materiil. Dan perempuan hanya pasif menerima nasib sebagai makhluk yang siap digagahi.
Tapi ingat, bukankah bertolak belakang dengan cita-cita luhur perempuan seperti yang diharapkan diatas tadi. Dengan cara ini, kita boleh saja sejahtera secara materi, mungkin pula sama artinya dengan menyerah pada kemunafikan, tidak pada kemerdekaan yang sesungguhnya. Apalagi jika kamu percaya bahwa ada banyak hal dari dalam perempuan yang tidak bisa dibeli oleh apapun. Meliputi apa saja, kamu yang lebih tahu…
---
Mungkin aku terlalu enak asal ngomel ya, mentang-mentang hanya sekedar menjadi pengamat. Perlu kamu tahu, aku hanya bicara tentang apa yang sudah menjadi pengalamanku, getir pahit juga. Memang tak semua mimpiku telah teraih. Tak semua mimpi itu manis, sebab mimpi manis itu hanyalah lagunya Dewi Persik, dan sempurna itu hanya milik Andra & The Backbone.
Intinya maksudku begini - (yang diatas tadi tidak usah dibaca semua, itu tadi cuma prolog). Memang membutuhkan pengertian diantara keduanya, anak yang tahu diri dan orang tua yang mau memaklumi.
Pertama, jadilah putri yang tahu diri. Buatlah berarti atas setiap kesempatan yang kamu miliki. Ambil hikmahnya! Semakin kamu tidak memiliki waktu banyak untuk keluar rumah, maka seharusnya kamu semakin sadar betapa pentingnya waktu. Dengan ini, kamu tidak menyiakan lagi secuil keluangan tanpa aktifitas yang produktif. Hitung-hitung sebagai upaya mempercepat pembuktian disela-sela kehimpitan. Supaya bapak ibumu tahu, kamu adalah putrinya yang kredibel.
Kedua, proses mendapatkan pemakluman orang tua. Hal ini bisa ditempuh dengan cara … (pasti kamu yang lebih mengetahui sisi lembut orang tuamu, yang sudah mengenal lebih dari 20 tahun atas sifat kelembutannya. Bila kamu tidak mengetahui. Hmmm.. mungkin saja masalahnya ada padamu, atau mungkin malah kamu yang tidak pengertian, makanya tidak dimaklumi. Jgagaga
Bila tulisan ini perlu dibaca orang tuamu, print saja. Hehehe. Bila tetap tidak paham, bagaimana lagi. Aku yang harus datang langsung kerumahmu untuk menjelaskan. 
Saya berani nasehati seperti ini, karena saya sering berhasil memotivasi orang lain, meskipun sering gagal memotivasi diri sendiri. hehehe

Comments

  1. eh nona.. kamu harus jadi ibu yang bijak ya nanti .. *eh maap ikut nimbrung. haha.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Aku di Rumah Janda

Rintihan Aktivis Hormonal; Kisah Haru Si Bekos

Menjadi Penulis Tanpa Bayaran