Antara Su, Bro, dan Beb
Su, Bro, dan Beb, beberapa hari
ini aku kembali mendengar nama-nama itu.
Diantara ketiganya, Su yang
paling sering menyapaku. Bro agak jarang. Sementara Beb, entahlah
simak saja !
Su,
Su, terakrab diantara ketiganya. Tidak ada
pertemanan lain yang lebih dekat lagi, ketimbang pertemananku dengan Su. Dalam
satu hari, Su menyapa aku (mungkin) lebih dari seratus kali. Begitu
sebaliknya aku menyapanya. “Hallo Su, aku butuh duit !!! Su, ngopi yoh
!!! Su, ayo kerjo !!!”
Bahkan Su jauh lebih perhatian
kepadaku melebihi perhatiannya Beb, saat aku masih punya Beb dulu.
Su, begitu sapaku kepada teman-teman akrabku.
Aku tak pernah canggung menyapanya di tempat umum sekalipun, apalagi teman Su
laki-laki, sedangkan untuk teman Su perempuan, aku agak sedikit
canggung memanggilnya Su, lantaran saya kasihan bila hal itu akan merendahkan
martabatnya sebagai perempuan di depan umum.
Akirnya saya ganti menyapanya
menjadi Cuy, sebagai ganti Su (karena alasan perempuan tersebut).
Meskipun berubah menjadi Cuy, tapi esensinya tetap sama saja dengan Su,
cuma kedengarannya lebih sopan sedikit. Hehe. “Cuy, pinjam bukunya ya !!!”
kedengarannya agak lebih sopan dikit.
Ku pertegas sekali lagi, tak ada
keakraban melebihi keakrabanku dengan su. Aku menilai sapaan Su
ini berada di tingkatan maqom tertinggi dari semua tingkatan. Su lebih
tinggi dari mas, kang, pak, bro apalagi beb.
Bayangkan, bila anda sembarangan
panggil orang dengan sapaan su, bisa-bisa kena gampar. Artinya, tak
semua orang dengan bebas menyapa su, hanya orang-orang tertentu saja
yang berhak memanggilnya, yakni orang-orang yang telah sering bersama menjalani
getir manis pertemanan.
Butuh waktu bertahun-tahun
untuk sukses pada maqom ini.
Jadi tidak heran, bila orang
yang sering dipangil Su, ia akan cenderung lebih hebat daripada Beb yang
dimanja-manja, daripada Bro yang disanjung-sanjung. Su, akan lebih
kebal dan teruji lebih lama. Hehe, Sebenarnya tinggal ada dua pilihan. Pertama,
semakin menjadi kebal dan hebat. Kedua, ya sebaliknya, terpuruk.
ckckck
Tapi konon, sejarah telah
membuktikan !!!
Bila anda bercita-cita anakmu
kelak bisa menjadi presiden Indonesia, ia harus diuji dulu pada tingkatan maqom
ini. Anakmu harus sering dipanggil Su. Dan itu
telah terbukti, dari sekian tokoh yang pernah menjadi presiden Indonesia,
sebagian besar sering dipanggil su. Contoh : Sukarno, Suharto,
Megawati Sukarnoputeri, dan Susilo. Hanya Habibi
dan Gus dur yang tidak (dan sejarah Indonesia telah menunjukkan dua orang
terakhir ini tadi, hanya memimpin Indonesia dengan usia yang sangat singkat
bila dibandingkan presiden yang memiliki nama Su. Heuw heuw heuw.
Ini pasti ada semacam
kekuatan tertentu, dan harus ada kajian disiplin ilmu tersendiri, apa makna
falsafah dari su. Seharusnya, bagi anda yang doyan berfilsafat,
harus tuntas mengkajinya.
Eh. . .ini tidak ada unsur
kampanye pemilu presiden 2014 lho. Lantaran saya memuji-muji beberapa nama
calon presiden yang ada huruf Su nya. Ahhihihihi….
***
Beb,
Kenapa saya begitu risih
mendengarnya !!!?
Terakhir kali saya pakai
sapaan ini, kapan ya? Atau barangkali malah tak pernah. Lalu darimana saya tahu
sapaan beb ini? Coba saya ingat-ingat dulu, di mana akhir-akhir ini saya
mendengarnya.
Oh . . iya, saya ingat.
Ternyata saya hanya kenal
saat dipameri temanku untuk membaca sms-smsnya, dipaksa untuk melihat
percakapan whats-App nya atau BBM-nya. “Mlm beb, gnp beb, miss u beb, lup u
muach beb”. Saya benar-benar merinding seketika sehabis membacanya, apalagi
mendengarnya saat saling telfon, aku (hampir) masuk angin.
Lagian juga sudah enggan untuk
pakai sapaan itu, sudah terlanjur malu dengan kumis dan jenggot saya yang mulai
menebal ini.
Alasanku sedikit membencinya,
sebab, dengan sapaan ini, membuat generasi Indonesia hanya akan diperlemah dan
semakin tak berkembang daya nalarnya. Lantaran, sapaan Beb, bagiku
terlalu memanjakan.
Beb, juga hanya akan menyapa bila ada maunya. “Beb,
jajan donk !!?? Nanti malam nonton ya beb !!?? Besok jemput aq ya Beb !!!??”.
Memang tak melulu seperti ini, tapi kecenderungannya memang seperti ini.
Su, (jelas) jauh lebih tulus, ketimbang Beb yang
penuh dengan kepura-puraan. Bahkan (mungkin) kamu sering dibingungkan oleh Beb,
bilang mau padahal tak mau, bilang tak mau padahal mau, bilang tidak padahal
iya. Membingungkan.
Tapi entahlah, aku tak
mengenal lebih jauh tentang Beb, semoga saya tadi salah menilai. Semoga.
***
Bro,
Bro, begitu sapaanku kepada teman yang mulanya
kurang akrab denganku, tidak seakrab aku dengan su.
Dulunya, dengan menyapa Bro,
aku merasa seperti benar-benar menjadi anak kampus sungguhan. Yang pada mulanya
aku hanya anak pemalu, berubah menjadi anak yang penuh gaya dan serasa laki.
“Hey bro, kemana bro,
ngampus bro, naik apa bro, mobil donk bro, loe dengan siapa bro, ini bro, gue
dengan mbak bro”, laki banget kan ?
Hampir setara lakinya dengan
sapaan men, serasa gaya juga, “Hai men, apa kabar men, baik men,
darimana men, ngampus lah men, sekarang sedang apa men, ini gue lagi men”. Lama-lama
aku malu dan lebih memilih jujur tanpa bergaya.
Setelah aku pikir-pikir,
ternyata aku membohongi diri-sendiri. Tidak menjadi diri sendiri. Bro,
pada awalnya cuma sebagai trik upayaku untuk berkamoflase saja, aku yang anak
desa, maka dengan bro menjadi tidak kelihatan lagi gayaku sebagai anak
desa. Tapi, kemunafikan itu lambat laun terbongkar juga.
Akhir cerita yang tak bisa
kujelaskan kronologisnya, setidaknya bro telah menyadarkanku, sehingga aku
sekarang justru semakin bangga sebagai anak desa.
***
Pesan akhir dari tulisan ini,
berharap nanti jangan marah bila sewaktu-waktu aku memanggilmu “Su”. Oke
Su !!!!
Tulungagung, 07 Maret 2014
Oleh Fikri Mustofa, Su (Sarjana Urakan)
Comments
Post a Comment