Kupinang Kau dengan Blog Seadanya (Bag. I)

Punya kekasih itu rasanya bagaimana, sih? Aku hampir lupa setelah sekian (agak) lama berjeda tanpa asmara. Hingga tak disadari usiaku sekarang sudah hampir  seperempat abad.

Terakhir menjalin asmara (meskipun ala ABG labil) kira-kira beberapa tahun lalu lah, dalam suasana yang masih menggembirakan, yang tak pernah mempersoalkan kesetiaan dan perhatian. Menurut analisis temanku  yang sok-sokan jadi pakar pengamat asamara, salah satu penguatnya karena di luar urusan cintaku, hampir tak ada masalah yang mengganggu kegembiraan tersebut.

Misalnya, aku di masa itu masih dalam keadaan masa kejayaan. Secara saku kantong ya cukup lumayan tebal, sampai-sampai untuk berjalan kaki aku sering sempoyongan. Hehehe. Aku masih menduduki jabatan penting dimana-mana, tidak hanya dualisme organisasi tapi malah pancalisme organisasi. Pokoknya serba prestisius, tanda tangan dan cap tiga jariku saja masih laku dan banyak yang membutuhkan. Hahaha.

Juga secara penampilan masih terlihat masih unyu-unyu serta muda merona. Tak seperti sekarang, wajah terlihat sangat boros. Mungkin karena aku terlalu visioner ya, sehingga ketika kamu melihat mukaku yang sekarang, maka nampak seperti kamu melihat mukaku 10 tahun kedepan. Visioner.

Hari ini, aku bertemu dengan suatu masa yang kurang diharapkan, kebetulan (eh kesalahan) saja masa kejayaanku pelan-pelan meredup, banyak musibah yang menguji dan diiringi kegagalan-kegagalan di semua urusan. Roda hidup berputar dinamis, memaksa aku untuk menerima kenyataan bahwa ada kala hidup tak selalu di atas. Rodapun berputar kebawah tanpa bisa ku bendung takdir-Nya.

Di saat kacau seperti ini, aku ingin kembali ke jaman itu, untuk menemui perempuan-perempuanku lagi. Bukan untuk berasmara tapi hanya sekedar bertanya. “Lelaki yang ketika jaya, engkau setia. Apa engkau tetap (setia) pula ketika jayanya mulai sirna?” Hehe, susunan kalimat dalam pertanyaan ini sebenarnya bukan karanganku, tapi aku pinjam dulu.

Sekiranya tidak berlebihan bila aku katakan, (mungkin saja) satu-satunya sisa prestasi yang kumiliki untuk sementara ini hanya blog sederhana ini. Tempat aku mencatat sisa-sisa kejayaan yang aku bangga-banggakan. Dengan harapan semoga ini menjadi motivasiku untuk membangun kembali kejayaan itu.

***

Andaikan kau adalah perempuan yang orang tuamu menuntutku untuk menikahi, maka bisa jadi hanya kupinang kau dengan blog seadaanya ini saja dulu. Saking belum adanya harta/bukti karya lain, melebihi berharganya blog sederhana ini. (Untuk sementara).

Boro-boro meminang dengan cincin emas 25 karat, hanya sekedar untuk menghadiri acara-acara keluar kota saja, sekarang belum ada bekal beli tiket. Esok lusa aku harus ke Mataram-Lombok untuk menghadiri acara pers mahasiswa kira-kira selama 3 minggu lamanya.

Belum nanti bila terbentur dengan urusan rindu (katanya rindu itu ada), mana aku punya pulsa banyak untuk menelfon kamu, bisa selamat sampai di sana saja sudah syukur, meskipun dengan cara numpang truk muatan lagi.

Apalagi meninggalkan kenang-kenangan sebelum aku pergi, kayaknya tak bisa diharapkan. Kalau Bang Rhoma mungkin bisa memberi gitar, bila rindu sewaktu-waktu bisa dipetik-petik sambil mengingat-ingat. “Pabila kau rindu padaku, petiklah dan bernyanyilah, semoga akan terobati rasa rindumu padaku”.

Namun aku juga tak mau bila tak realistis seperti jikustik dengan lagunya, “Bila kau rindukan aku puteri, coba kau pandangi langit malam ini. Bila itu tak cukup mengganti cobalah kau hirup udara pagi, aku di situ”. Kalimat ini bagiku sangat tidak realistis kan?

Maka alternatif yang realistis dan terjangkau hanya dengan blog seperti ini, “bila kau rindukan aku Nona, bacalah blog ini dan tertawalah”.

Dengan blog ini, aku bisa berbagi tentang ceritaku, dan engkaupun akan berbagi tentang ceritamu. Bukankah dengan  cara berbagi yang dimuali dari personal-persoalan sepele seperti ini yang kelak akan mendidik kita lebih dewasa. Tak hanya sekedar dewasa usia, tapi juga nalar yang dewasa dan hati yang dewasa.

Engkau bisa belajar berbagi tentang kejujuran diri. Kan tak leluasa bila kau ungkapkan semua kejujuranmu di depan podium? Apalagi untuk kamu yang wanita, bercurah hati adalah mutlak kebutuhan primer yang tak bisa ditawar-tawar,  harga mati, bukan kebutuhan sekunder bukan tersier lagi.

Yakinlah, disaat kita tak sedang bersama, blog ini bisa menyelamatkan cinta kita. Satu-satunya kondisi yang memisahkan tawa kita, hanya apabila blogger ini scam.

Saya menulis ini, jangan dikira mengada-ada berlebihan, memang kenyataan tentang kondisiku sementara ini beberapa minggu terakhir. Saya bukan orang kaya yang berkamoflase pura-pura menjadi orang miskin, seperti yang dilakulakan oleh orang kaya sungguhan untuk menyeleksi dan menguji wanita mana yang tulus untuk dipinang apa adanya.

Meskipun bila ketahuan Pak Mario Teguh, pasti akan dibantah habis-habisan. Membujuk wanita untuk siap menerima apa adanya, sama artinya dengan membenarkan ketidakberdayaan serta tak ada niatan untuk berusaha lebih keras lagi.

Pak Mario, aku tahu itu. Aku tahu, kalau aku harus berusaha. Dan aku telah berusaha, namun kondisilah yang saat ini belum mempermulus cita-citaku. Sebagaimana engkau tahu, memang “hidup itu tak semulus pantatnya personil cherrybele”, iya kan?

Semua masalah kesulitan ini, sudah saya coba untuk diselesaikan, satu persatu. Dan ruang istirahat  yang hari ini aku inapi adalah blog ini. Dengan belajar dari hal-hal kecil di dunia maya seperti ini, mari kita menempuh perjuangan hidup yang lebih nyata.

Perhatian !!!
Hati-hati, banyak lelaki kaya mengaku miskin. Tapi juga Banyak lelaki miskin yang mengaku kaya. Semoga saya BERBOHONG.

Nb : Ini blog tergoblogku dari sekian blog goblog lainnya. Bila bicara soal hati, waduh, aku paling tidak mengerti dan seketika menjadi goblog.

Tulungagung, 11 Maret 2014
Oleh Fikri Mustofa, S. Pd (Sarjana Penuh Derita)

Comments

Popular posts from this blog

Aku di Rumah Janda

Rintihan Aktivis Hormonal; Kisah Haru Si Bekos

Menjadi Penulis Tanpa Bayaran