Patahkan Hatiku Asal Jangan Patahkan Penaku

Salam Persma !!!
Wuih.. salam sakral penuh berapi-api tiap kali kami berkumpul dengan pegiat literasi /pers mahasiswa se-Indonesia dan sekiranya perjumpaan terakhir kami 2 tahun lalu saat di Mataram, NTB.
Satu pembahasan menarik tentang upaya meningkatkan produktivitas menulis di kalangan mahasiswa. Banyak terobosan ide yang muncul seperti mengadakan kelas menulis, ngaji jurnalistik dan roadshow ke-literasi-an. Namun pada kenyataannya, cara-cara itu tidak terbukti ampuh.
Maka, sebagai senior goblog yang dituakan, sudah saatnya saya angkat bicara, kasih solusi terbaik. Paklek akan memaparkan cara membangun semangat literasi dari perspektif berbeda, anti mainstream.
Cara ini terbukti efektif dan berhasil, sebab penelitian menggunakan sejenis pendekatan partisipatoris, yakni paklek sendiri sudah membuktikan sebagai pelaku peneliti sekaligus korban kelinci percobaan.
Penelitian dengan menggunakan pendekatan partisipatoris itu ya penelitian yang memang harus melibatkan diri si peneliti terhadap studi yang dikaji tersebut. Contohnya, penelitian tentang dampak lokalisasi, maka peneliti akan memerankan diri langsung secara aktif untuk "njajal / njajan" disitu. Juga secara pasif, yakni "dijajali / dijajani".
Ah, anda masih terlalu muda, belum mumayis (belum bisa membedakan baik buruk, bukan kog membedakan mana enak mana yang enggak). Masih belum faham juga? Kalo gitu langsung saja pada point intinya:
***
Begini, klu pertamanya. "produktivitas menulis itu berbanding lurus dengan besarnya sakit hati yang kamu tanggung". - Tentu treatmen ini tak berlaku bagi anda yang berhati keras atau barangkali homo -
Tinggal mainkan strateginya saja, begini, mula-mula carilah perhatian sebanyak mungkin wanita, cintailah dia!!. Nah, di saat kamu sudah mulai merasakan cintanya, justru mintalah dia untuk meninggalkanmu, dengan cara membuat kesalahfahaman-kesalahfahaman kecilmu. Pokoknya atur sendiri gimana agar dia menelantarkanmu, agar kamu benar-benar patah hati. Tujuan intinya, jadikan dirimu sebagai seseorang yang benar-benar sesengsara mungkin.
Itu langkah pertamanya, berani coba? Kalo berani jangan takut-takut, kalo takut jangan berani-berani (pesan moral 23a)
Jika berani, niscaya semangatmu menulis akan semakin meledak. Rasakan perubahan dirimu yang seketika mendadak jadi sosok Chairil Anwar, Rendra, Gie, juga sekaliber Pramoedya Ananta Toer. Menulis terasa gampang, menulis itu mudah semudah berak, banyak hal-hal kecil yang mulanya nampak biasa berubah menjadi sumber inspirasi. Bahkan inspirasi itu bisa datang dari mimpi tidurmu. Entah mimpimu soal dikejar tuyul, menjadi drakula, dan mimpi-mimpi lainnya, bukan tidak mungkin bila justru kelak akan menjadi novel best seller. Buktikan omongan berlebihan ini !!!
Mengapa pramoedya memiliki karya berkualitas semasyhur itu, karena ia dulu juga patah hati. Bedanya dengan kamu cuma di konteksnya, yakni pram sebab mendadak dibuang ke sebuah pengasingan, menjadi tahanan politik, tanpa keputusan pengadilan hukum yang jelas. Ya sama dengan kamu, kalo kamu mendadak diasingkan dari perhatiannya, menjadi tahanan perasaannya yang tanpa pengadilan keputusan.
Juga belajarlah dari Gie, catatan-catatan melankolisnya yang sangat populer, sesaat setelah dia patah hati, ia menulis di Semeru, dan berkirim surat terakhir untuk wanitanya,
"Ada orang menghabiskan waktunya berziarah ke Gunung Budeg. Ada orang menghabiskan waktunya berjudi di Bolo. Tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu sayangku, berbicara tentang kucing-kucingmu yang nakal dan lucu, tentang bunga-bunga yang manis dan dinginnya malam di lembah Kampak".
Subhanalloh, patah hati bisa menjadi pemicu terciptanya catatan yang maha romantis. Dan itu yang musti anda lakukan. Alhasil, kamu yang sekarang telah menjadi sosok Gie juga Pram. Menulislah.
Maka, buatlah sengsara dirimu dan berkaryalah. Berkarya dan menulis adalah cara yang jauh lebih baik ketimbang kalian balas dendam menyakiti balik perempuanmu. Dan membalas dendam atas rasa sakit hati, adalah pantangan bagi murid paklek. "Terima kekalahanmu serta salutkan kemenangannya, lapang dada" (pesan moral 507a).
Jangan sampai kalian memalukan seniormu ini. Ada 2 perkara yang bisa membuat malu seniormu : pertama, kalian balas dendam atas rasa sakit hatimu pada wanita. Kedua, susah payah diajari semangat menulis tetap saja bodo. Sungguh keduanya bikin malu.
***
Namun bagaimana bila semangat menulis mulai melempem lagi ?
Berarti anda masih setengah-setengah patah hatinya. Ulangi lagi treatment di atas, sampai puncak kenikmatan patah hati itu mendekati keinginan bunuh diri.
Maka produktivitas menulismu semakin menjadi-jadi. Seiring popularitasmu semakin menggaung, maka akan semakin banyak wanita yang semakin lumer hatinya terpukau oleh karya-karyamu dan siap ngantri. Kesempatan ini bisa anda manfaatkan sebagi peluang, bahwa anda masih punya banyak stock perempuan-perempuan yang kelak siap ngantri mematahkan hatimu lagi. Bersyukurlah, anggap saja mereka sebagai bahan bakar untuk menggerakkan roda kreatifitasmu. Berlapanglah saat siapapun mematahkan hatimu, asal jangan patahkan penamu (pesan moral 23b).
Paklek sudah membuktikan sendiri, karya-karyaku bisa dilihat di tautan ngetop ini: fikri-go.blogspot.com , situs murah tapi bukan murahan. Ya memang tidak banyak tulisan-tulisan saya, paling-paling cuma sekitar 100 lebih berapa gitu yang memang masih perlu perbaikan.
Masih perlu revisi dan belum memuaskan.
Makanya saya mengutuk atas semua karya tulisanku itu, bahwa semuanya tidak pernah ada, dan terimakasih anda telah sia-sia menghabiskan waktu menemani kegalauan ini.
Salam melankoli !!!

Comments

Popular posts from this blog

Aku di Rumah Janda

Rintihan Aktivis Hormonal; Kisah Haru Si Bekos

Menjadi Penulis Tanpa Bayaran