4 Hal yang Menggagalkan Komitmen Berhenti Merokok

PAK-LEK onSPOT. Banyak komitmen baru yang diujar masyarakat setiap kali menghadapi pergantian tahun. Menurut surve detektif upik, “resolusi berhenti merokok” menduduki peringkat pertama (1) di tahun ini. 

Komitmen diurutan selanjutnya, 2) lebih sayang istri, bagi yang punya. 3) Kerja tepat waktu, bagi yang punya pekerjaan. 4) Gemar menabung dan tidak sombong, seperti pak lek ini.

Namun, komitmen stop merokok itu bisa jadi gagal total akibat hal-hal sepele berikut:

Ditawari rokok gratisan.
Ini godaan pertama bagi orang terapi, yang dapat memicu siapa saja untuk melanggar komitmen tadi. Awalnya memang menolak namun dalam hati mulai bertanya-tanya: Orang nggak mau kog dipaksa, ya mau !!? mumpung gratis kapan lagi ? Maka slogannya menjadi begini, “Bambang, cintamu aja saya terima, masak rokokmu saya tolak”. 

Nonton Film Gangters.
Yang sebagian besar film ini tidak lulus sensor, terdapat adegan merokok oleh para pendekar gagah, sehingga alam bawah sadarpun menuntun, seolah-olah para aktor membujuk kita “merokoklah, maka keren”.

Tapi masih wajar kalaupun gara-gara adegan itu membuat kita terbujuk merokok saat nonton bareng. Yang tidak wajar itu, pas nonton kebetulan terdapat adegan  m*sum membujuk kita untuk melakukan adegan bareng. Ya kalau disampingmu anak perempuan nggak masalah, kalau disampingmu anak sesama laki ? Tidak wajar lagi, jika terhadap adegan pemukulan, disaat spontan kita memukul botak sampingmu. Misalnya, pas mertuamu lewat.

Salting bertemu mantan berduaan.
Berikut ini kenyataan-kenyataan pahit yang bisa bikin emosi ketika bertemu mantan : 1) Ternyata si mantan memiliki pacar baru yang tidak lebih tampan dari kita; 2) Ternyata pacarnya tidak lebih hebat dari kita; 3) bahkan pacara barunya lebis miskin daripada kita; menyakitkan bukan?

Nah, di saat itu bisa jadi emosi 1 kg, gregetan 2 sendok teh, canggung 3 cc, panik 1 ons semua campur aduk menjadi satu, salting (salah tingkah). Pada akhirnya, merokok dulu biar kelihatan nggak panik. Bila tidak bawa korek api, pinjam kepada pacar barunya, atau pinjam Bambang tadi !! 

Kenangan Vs Move-On di Kamar Mandi
Begini jawaban responden : “Sejuta kenangan masih tersimpan di kamar mandi, tidak mudah melupakan masa-masa yang terlewati. Saat suka dan duka di kamar mandi, saat itu rokok selalu menemani. Maka dalam hati bertanya sekali lagi, segampang inikah aku mencampakkan rokok sumber inspirasi”.

Itu tadi jawaban responden yang kerasukan di kamar mandi. Bila terlanjur kerasukan demikian, sekalipun kebelet *mpup, tetap saja tidak bisa tenang walau sudah start duduk satu jam. Move on itu memang berat, sama seperti pak lek dulu saat masih di bangku SMP: nembak cewek itu mudah, yang sulit itu mutusin. #lah, tidak nyambung.

***
Komitmen baru memang sulit, apalagi menghendaki keberhasilan secara drastis total, semua membutuhkan proses, sedikit-demi sedikit, sama seperti gerakan reformasi 1998 yang keberhasilannyapun dilakukan dengan upaya nyicil,  juga kemerdekaan Indonesia dilakukan secara nyicil alias berangsur-angsur. Maka, dalam konteks merokokpun demikian. Tirulah pak Lek, tidak serta merta berhenti merokok, namun menerapkan resolusi dengan sistem nyicil juga, namanya “resolusi mengurangi rokok”.

Begini penjelasannya: yang mulanya dalam satu bungkus rokok berisi 20 batang, kini tinggal 8 batang, maka lama-lama tinggal 2 batang. Yang mulanya panjang rokok 4 cm, saya nyalakan menjadi setengan cm, demikian sehingga jumlah rokok terus berkurang habis terbakar. Beli lagi, lama kelamaan rokok di toko juga habis. #Lah.
Dasar hukumnya : “Yarka’uu ma’a rooki’in” artinya merokoklah bersama orang-orang yang merokok.

Kedungwaru, 24 Pebruari 2015
Oleh Akhdiyat Fikri Atmodjo

Comments

Popular posts from this blog

Aku di Rumah Janda

Rintihan Aktivis Hormonal; Kisah Haru Si Bekos

Menjadi Penulis Tanpa Bayaran