Gagal Mimpi Basah, gara-gara Kecuk dan Nyamuk

Berikut dua hal paling menyebalkan saat tidur:

Pertama, diserang nyamuk jantan

Pada akhir Januari ini, satu-satunya makhluk yang paling progresif revolusioner di Tulungagung adalah nyamuk. Bahkan lebih revolusioner daripada gerakan mahasiswa kekinian. Segarang-garangnya mereka (red: mahasiswa) menyerukan kebebasan, paling-paling pada akhirnya akan takluk dengan pengumuman ujian komprehensif menjelang semester akhir, lumpuh di hadapan dosen. “Ayo potong rambut dengan rapi, silakan pakai sepatu hitam berkaos kaki putih, sini Bapak uji, bacakan surat Qulhu !!!” begitu kata dosen. Tentu tidak ada pilihan lain selain kata, “iya pak, siap !!!”.

Saya sendiri masih bingung, apa pengertian idealisme yang dipahami mahasiswa, saya tidak tahu sejauh apa mereka komitmen dengan definisi idealisme yang setiap malam mereka diskusikan. Sebab, perjuangan di awal, tidak total sampai akhir, dan ketidak-totalan itu seringkali mereka ulangi dalam konteks apapun, tidak hanya seputar ujian kompre akhir semester.

Justru saya bisa memahami pengertian kata totalitas dari nyamuk, setelah mereka menggigitku, hendak aku bunuh, namun nyamuk-nyamuk tersebut sebelumnya debat dulu dengan saya seputar perjuangan hidup, seputar komitmen dan totalitas. “Pesan kami, sebelum engkau bunuh kami, sampaikan salam ini kepada mahasiswa, bahwa totalitas itu ibarat kami yang menggigitmu sampai titik darah penghabisan, demi kelangsungan hidup anak cucu kami, itulah hakekat perjuangan hidup” Begitu kata nyamuk.

Belum berhenti nyamuk bicara, saya tampar, “plak-plak-plak !!!” Saya merasa puas, menampar nyamuk laki-laki itu serasa kepingin menampar mulut mahasiswa yang selama ini belum pernah keturutan.

Demikian, malam indah ini dibuat resah oleh nyamuk laki-laki.

Kedua, Mendengar si Kecuk mendengkur

Seharusnya di malam yang indah ini saya bisa bermimpi shahdu, manakala ada wanita cantik hendak memelukku tiba-tiba dari semak-semak muncul suara keras, auman sosok asu-baung (red: serigala). Seketika sayapun terbangun, tidak ada lagi wanita cantik di sampingku, melainkan justru si Kecuk yang dalam mimpi tadi berperan sebagai tokoh figuran serigala pengganggu mimpi percintaanku.

Si Kecuk memang bukan semacam makhluk hidup menjijikan sebagaimana kuda nil, namun terkadang lebih menakutkan daripada asu baung. Terkadang ia di kampus terlihat sangat keren layaknya boyband, tak ada wanita yang menyangka, seperti apa tingkahnya dikala tidur, dengan dengkuran mirip suara singa lapar. 

Akankah suatu hari nanti, istrimu kecewa melihat polah tingkah tidurmu, sobat ? saya tidak menyesalkan diriku yang terbangun oleh suaramu hingga insomnia, saya justru memikirkan nasibmu kelak. Bagaimana perasaan mertua yang memiliki memiliki menantu mengerikan macam dikau, sobat?

Meski begitu, si Kecuk adalah penyelamatku, ia menggagalkan mimpiku bertemu dengan bidadari, suara mengerikanmu telah menyelamatkanku dari mimpi basah. Begitu juga dengan nyamuk jantan.

Tulungagung, 31 Januari 2015
Oleh : Mustofa Duta Atmodjo

#Edisi Waleh
(Parodi yang mengupas tuntas kisah resek teman satu komplek)

Comments

Popular posts from this blog

Aku di Rumah Janda

Rintihan Aktivis Hormonal; Kisah Haru Si Bekos

Menjadi Penulis Tanpa Bayaran