(Mata Kuliah ini) Hanya ada di Kurikulum Semester Sebelas

Tak semua mahasiswa mampu melakoninya, sehingga jarang yang mendapatkan mata-kuliah ini. Terlebih tak dapat apa-apa bagi mereka yang selesai wisuda di semester delapan. Banyak materi menarik yang hanya ada di kurikulum semester sebelas. Artinya hanya sedikit mahasiswa yang memiliki nasib beruntung ini. Maka bersyukurlah.

Demikian salah satu alasanku, kenapa tak begitu saja melewatkan kesempatan langka ini, hingga menentukan pilihan untuk tidak mengakhiri masa studi di semester muda. Aku tak mau biasa-biasa saja sebagaimana mahasiswa biasa lainnya. Terlalu biasa dengan pola yang monoton: lulus SMA, kuliah 4 tahun, wisuda, kerja/nganggur. Begitu-begitu saja, tidak ada inovasinya sama sekali. Terlalu takut dengan stereotip buruk (anggapan salah kaprah) yang melekat pada mahasiswa tua, takut dicap koboi kampus, takut dicap sebagai tarzan kampus.

 “Hindari kelulusan dini, sebab hanya akan menciptakan sarjana premature. Yang penting bukan mengejar lulus tepat waktu, tapi mengejar waktu yang tepat untuk lulus,” demikian prinsip salah satu senior anonim.

Terserah orang bilang, ini dianggap pembenaran atau sekedar upaya untuk menghibur diri. Namun, jangan salah, dan jangan menyesal, bila ternyata ada banyak wawasan penting yang tak pernah didapatkan oleh sarjana-sarjana prematur.

Berkualiatas tidaknya sebuah kurikulum, bisa diukur dengan salah satu indikator, yakni output yang dihasilkan. Output merupakan akumulasi dari keterampilan/skill & daya nalar (IQ), kepekaan sosial (EQ), serta kedewasaan hati yang berkaitan dengan hal-ikhwal supranatur (SQ).

 Mengapa (misalnya) persoalan pengangguran bergelar sarjana selalu menjadi PR besar pemerintah kali ini, dan masalah itu selalu berulang tiap tahunnya. Bahkan sarjana muda sepulang ke kampung, justru terasing di masyarakatnya sendiri. Ini adalah persoalan output, akibat dari ketidaktuntasan proses yang dijalani semasa menempuh perkuliahan dengan kurikulum lazimnya versi kemendiknas.

Maka, pak-lik sangat menyayangkan kebijakan yang kurang tepat, apabila pemerintah hari ini merencakan untuk membatasi masa kuliah maksimal lima tahun. Pemerintah lupa bahwa ada banyak pelajaran penting yang dilewatkan oleh generasi-generasi muda Indonesia paska 8 semester. Apabila kebijakan untuk membatasi itu benar diterapkan, gawat !!! kesalahan kecil bisa berakibat fatal.

Memang terkadang ada mahasiswa yang kuliahnya lama, tidak semakin cerdas, tidak semakin peka sosial, justru malah minder. Ah, itu hanya kasuistik beberapa orang saja, yang tidak serius di semester 11 ini, barangkali sebabnya si-Fulan sering bolos atau mungkin autis dengan film mesum saat dosen sedang menjelaskan.

***
Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) ini sering saya jumpai di warung kopi, stasiun terminal, pasar tradisional, truck & angkutan umum, gardu pojok gang, mushola dan sepanjang jalanan, trotoar.

Siapa dosennya ? Merekalah para bandar togel, pemabuk ulung, kyai-kyai lokal, kondektur, penjual rempah, abang becak, calo, tante-tante, pak RT, serta bocah-bocah tamatan SMP. Mereka menyampaikan materi dengan sangat fasih, lugas, mengena, kontekstual, apa adanya, juga aplikatif. Maka saya menyebut mereka “Sebenarnya Dosen Luar Biasa” (juga dosen yang biasa diluar), bukan DLB-DLB di kampus yang gelagatnya bak doktor, bergaya birokrat, serta nalarnya yang saya (tidak) menyebutnya “tak kompeten”, teoritis dengan bahasa-bahasa melangit sehingga tidak bisa dipahami oleh manusia yang ada di bumi ini.

Dosen-dosen Luar Biasa di semester 11 ini mengajariku dengan sangat mahir. Betul-betul mahir-profesional sesuai bidangnya, tak seperti DLB-DLB baru di perguruan tinggi yang direkrut sebab adanya unsur kolusi-nepotism.

Apa saja mata kuliah di semester 11 ini?

Berikut, pak-lik buka dulu Kartu Rencana Studiku (KRS) nya, saya bacakan ya? 1) Pengantar Belajar Dicaci-maki, 2) Metodologi Menghibur Diri, 3) Dasar-dasar Legowo, 4) Tehnik Tahu Diri, 5) Resiko Sesumbar, 6) Madhorot Tikam-menikam, 7) Hukum Menggurui, serta lima mata kuliah lain yang pak-lik nyoret lagi belum sanggup menempuhnya, jadi tidak saya bacakan dulu. Total ada 24 SKS, tapi saya hanya ambil 14 SKS saja.

Mata kuliah diatas sulit saya tempuh di semester delapan kebawah dulu. Bagaimana tidak ! Jangankan hendak mengakses, terfikirkan saja tidak, dan memang tidak tersedia waktu untuk menempuhnya. Sebab,  hari-hari sibuk dengan tugas-tugas teoritis, sibuk dengan perdebatan. Sedikit waktu namun dihabiskan untuk membantah pendapat-pendapat teman, sibuk menggurui mahasiwa baru sebab merasa lebih hebat duluan sehabis membaca 20 judul buku filsafat.

Bila ada kesempatan, kapan hari akan saya sampaikan juga masing-masing silabus beserta modul materinya. Gratis buat pembaca setia blognya Pak-cilek.

***

Pak-lik bukan bermaksud memprofokasi pembaca, sama sekali tidak. Barangkali pembaca mempertanyakan kualitas kepribadian penulis, “apakah di usianya yang semester 11 ini sudah banyak melakukan apa-apa selain selengek-an dengan tulisan-tulisan konyol tak bermutu ini?” Maka, demikian saya juga balik bertanya ? “Saya yang semester sebelas saja belum bisa apa-apa, apalagi bila hanya selesai kuliah di semester delapan, bisa apa ? selain menjadi beban negara”. Awal masuk kuliah dulu, kita dicita-citakan menjadi harapan masyarakat, eh sekarang malah jadi sampah masyarakat.

Terimakasih telah meluangkan membaca tulisan berkelas ini. Mungkin tak semua mahasiswa mampu mencerna ini, butuh belasan semester untuk sekedar faham saja. Sekian, om- shanti shanti- om.

Tulungagung, 28 Agustus 2014
Oleh Fikri Mustofa (Lik-Upik)

Comments

Popular posts from this blog

Aku di Rumah Janda

Rintihan Aktivis Hormonal; Kisah Haru Si Bekos

Menjadi Penulis Tanpa Bayaran