Krisis Komunal

Adalah sebuah situasi dimana saya bosan terus-terusan autis, sebuah keadaan dimana saya kebingungan mendapatkan wadah untuk meyalurkan minat tanpa bakat, serta mulai kekurangan partner yang tepat menemaniku mimik kopi.

Apalagi yang diinginkan oleh orang yang telah terpaksa purna masa organisasinya, apalagi coba? Juga selesai masa studinya meskipun tak bergelar sarjana? Kalau bukan berlabuh pada tempat sesuatu yang bisa mewadahinya.

Bahkan sesukses siapapun orangnya, akan ada masa dimana kebosanan terhadap rutinitas harian mulai terasa. Sebagaimana lebah pagi mencari madu maka pulanglah saat bunga telah terhisap layu (maaf, kayaknya bukan ini deh peribasanya. hehehe). Juga rindu akan nostalgia terhadap komunitas lamanya, kesemuanya penat bercampur menjadi satu.

Di masa-masa seperti itulah sebenarnya seseorang mulai mengidap krisis, menghadapi fase krisis komunal.

Iya, krisis komunal. Apapun yang bisa diorganisir maka diorganisirlah. “Kita punya selera music yang sama lho, ayo kita membuat gank !!!”. “Eh, kita ini sama-sama anak Trenggalek yang hidup di perantauan kota lain lho, ayo buat paguyuban !!!”. “Bro, kita ini sama-sama anak pemain bola amatir lho, ayo kita buat team!!!”, “Kita ini kumpulan mahasiswa tua yang tak pasti kapan mengenakan baju toga, ayo kita buat aliansi !!!! “Bro, kita ini kumpulan para jomblo yang tak bisa dijelaskan kronologisnya, ayo buat group!!!  Ups, keceplosan.

Itu aku.

Teman-temanku juga. Lihat saja di facebook, misalnya. Ada berapa banyak group yang tiba-tiba mengundang kalian. Dalam satu hari ada tiga undangan untuk bergabung dengan group baru. Sedangkan saya sendiri tidak tahu apa identitas serta misi group itu. Ya udah, coba-coba gabung saja, siapa tahu dapat piring cantik.

***
Memang hal semacam ini sudah berlangsung sejak lama, bahwa  keadaan ini yang saya maksud sebagai krisis komunal. Baru sadar, kan? Kalian pernah mengalami fase krisis ini, bahwa siapapun kalian ternyata juga bagian dari para pengidap krisis komunal itu. Iya kaliaaan !!!??

Zaman dulu, awal-awal era kebangkitan nasional, memang pula menjamur organisasi-organisasi seperti Budi Utomo tahun 1908, disusuI setelahnya, Indische Partij , Muhammadiyah, NU, Sarekat Islam, ISDV, PNI, jong java, jong sumatera, dan jong-jong lain hingga bersatu menuju sumpah pemuda tahun 1928.

Mereka mengorganisir komunitas, tujuannya jelas, yakni adanya kesadaran nasionalisme, dengan upaya yang jelas yakni baik dengan jalur pendidikan, jalur ekonomi, jalur agama, jalur politik, budaya dan jalur lain yang memang relevan dibutuhkan pada jaman itu. Musuh bersamanya (common enemy) juga jelas yakni penjajah asing.  

Hari ini sama-sama menjamur organisasi, namun berbeda konteksnya dengan dulu. Saya tanya, apa maksud tujuan berdirinya organisasi-organisasi yang sekarang ini ? kan tidak urgent-urgent amat  !

Saya berani meledekmu, bahwa sebab muncul organisasi yang sekarang ini tidak lain hanyalah akal-akalan sekumpulan  orang yang kurang kerjaan, yang saya sebut krisis itu tadi, mereka yang hobinya mengorganisir orang-orang senasib sepenanggungan, yakni senasib sama-sama kurang kerjaan alias “suwung”.

Perbedaannya, terletak pada semangat kebutuhan organisasi. Pada masa dulu, tujuannya untuk mengakomodir orang-orang hebat, pejuang. Sedangkan komunitas hari ini tujuannya untuk mengakomodir orang-orang kurang kerjaan alias “suwung” itu tadi.
Namun, meski demikian, tidak salah sih. Tetap dua jempol buat para pelopor hari ini yang dengan semangat berjejaring, semangat sosial yang tinggi. Saya punya slogan buat kalian yang merasa bagian dari korban kekrisisan ini. “bersama-sama saja masih suwung, apalagi kalau sendiri !!”

Lagian baik juga, itu menandakan adanya sifat kepeloporan bagi para pencetus ide terbentuknya komunitas tertentu. Berarti di era hari ini, ternyata masih ada sutomo-sutomo baru, meskipubn sayangnya sutomo jaman dulu tidak suwung serta lebay seperti sutomo yang sekarang ini.

Saya tidak tahu sih, bila barangkali sutomo jaman dulu bisa jadi sering suwung juga. Karena setahuku dari 15 judul buku sejarah Indonesia yang saya baca, tidak menemukan sisi lebay nya Sutomo, pula tidak suwung.

***
Krisis komunal Ini bukan topik baru, tapi saya baru saja mendapatkan satu pelajaran atas penomena ini. Bahwa manusia itu adakalanya yang bermental pelopor, ada yang bermental pengikut. Pelopor, dalam hal ini bisa jadi si admin pencetus gagasan terbentuknya sebuah kelompok. Pengikut, dalam hal ini bisa jadi kalian (dan saya) yang hanya ikut-ikutan gabung.

Pelopor itu pada prinsipnya memiliki salah satu dari sifat berikut : Inisiator, organisator, visioner, sekali-kali profokator. Pelopor, tidak selalu berangkat dari mereka yang usianya tua, asalkan memenuhi syarat diatas, bisa dikatakan cukup.

Untuk sementara ini, saya sendiri selalu tak mendapat kesempatan menjadi pelopor. Bagaimana tidak, waktu saya habis hanya untuk menelaah 3-5 undangan group setiap harinya. Apa daya, saya (mungkin) korban profokator, sehingga gabunglah saya dengannya. Lha saya sendiri minat. “Orang nggak mau kog dipaksa, yaa mau !!!”

Dan saya rasa, itu juga yang sering kalian alami.

Kita terkadang ada rasa sinis terhadap kelompok tertentu yang ketika diamati, anggota-anggotanya kog terdiri dari orang-orang tua namun seleranya konyol-konyol seperti bocah. Tapi dibalik sinisnya kita terhadap group tersebut, lah dalah diam-diam kita pada akhirnya gabung juga to?. Entah latar belakang gabungnya sebab diprofokasi, atau memang sebenarnya suka namun gengsi dan malu untuk mengakuinya. Semisal gabung dalam group fans band apa, fans club bola apa, dan sebagainya- dan sebagainya.

Sekalipun itu terlihat menjijikkan. Maka, pesan saya tidak usah malu malu untuk menjalani apa-apa yang sebenarnya kita ada ketertarikan di dalamnya. Tidak perlu gengsi, sok cool, maka sebagaimana saya menyesal kenapa dulu begitu gengsi untuk mengakui apa yang saya suka. Dulu, missal malu ikutan kelompok fans berat kangen band (Hehehe, alhamdulilah sekarang bukan lagi kangen ranger. Sekarang mau gabung Sheila gank, ah sama saja namanya itu tetap akibat krisis komunal juga).

Tidak mau gabung sejak awal kini tinggal penyesalanya.

Ya udah, bagaimana lagi. Penyesalan itu selalu ada di belakang. Sebab kalau di awal, namanya pendaftaran.

Tulungagung, 15 Agustus 2014
Oleh Fikri Mustofa, (nama imutnya) "Lek Upik)

Comments

Popular posts from this blog

Aku di Rumah Janda

Rintihan Aktivis Hormonal; Kisah Haru Si Bekos

Menjadi Penulis Tanpa Bayaran