Jalan Sunyi Seorang Ksatria


Tulisan ini saya buat, untuk meng-counter anggapan bahwa saya ini gila. Sebab aku sebelumnya selalu menulis dengan hal-hal gila serta tidak penting, maka kali ini aku mencoba sedikit lebih serius, menulis hal-hal yang tidak penting juga sih, namun tidak gila-gila amat, setidaknya masih ada nilai positif dan edukatifnya.

Berikut sisa-sisa cerita perjalananku dulu bersama teman-teman pers mahasiswa, kami menemukan pelajaran dari para ksatria yang memilih jalan kesunyian.

***

Mereka. Saat orang lain selalu ingin di depan menjadi pimpinan, ksatria tersebut cukup pilih berada di belakang, dia menganggap masih banyak garapan-garapan pengabdian yang luput dari perhatian kebanyakan orang. Baginya, tak harus menunggu jadi pimpinan dulu untuk dapat berjuang kepada yang membutuhkan.

Jalan sunyi seorang ksatria.  Tugasku sekarang hanya bercerita ulang, apa yang pernah diistilahkan oleh teman-temanku pers mahasiswa itu, yang ditujukan kepada mereka orang-orang hebat namun persetan dengan ketenaran.

Ini yang membuat kami tercengang. Mulanya, kami anak pers mahasiswa dulu sering berantem mulut adu konsep, namun diantara kami tercengang setelah di tengah perjalanan banyak menemui orang-orang yang sering di pandang sebelah mata, setelah kami amati, mereka yang tanpa disangka justru telah berbuat hal-hal kecil yang memberikan kemanfaatan nyata bagi orang lain.

Diam-diam, ternyata tangan  mereka berkarya. Yang tak diduga, telah mendidik anak kecil di kampung-kampung, memberi pelajaran dan berbagi ilmu pengetahuan, menggelar perdiskusian dari satu rumah kos ke kos lain tanpa sepengetahuan banyak orang. Diam-diam ia memelihara anak yatim dan para pengemis disaat kami kami masih sibuk orasi soal kesenjangan sosial di tanah negeri ini.

Spontan, kami berbisik, merekalah para ksatria yang memilih di jalur kesunyian. Jauh dibandingkan dengan kami, yang sedikit-dikit haus akan sanjungan.

Tentu sebuah pukulan telak bagi kami. Kami yang selalu terobsesi menjadi orang penting maupun pimpinan, haus disegani, bangga dengan kemenangan-kemenangan kecil, kemenangan palsu sebab kami tak sadar bahwa yang dikalahkan tak lain hanyalah  teman sendiri di kandang sendiri. Maunya menjadi orang nomer satu. Congkak, angkuh, sesumbar, sombong, adalah nama kembaran kami. Sedang kesemuanya hanyalah prestasi semu yang menipu.

Saya tak pandai bercerita. Ujung cerita kami sedikit sadar. Merekalah para ksatria yang melalukan sedikit hal nyata, di saat kami masih bertengkar merencakan hal luar biasa.

***

Mereka yang berada di jalan kesunyian, bukan berarti teraleniasi dari masyarakat, bukan murung bertapa. Justru karena mereka melebur di tengah menjadi bagian tak terpisahkan itulah, sehingga dia seolah-olah tidak terlihat lagi namun (sebenarnya) keberadaanya berasa. Kesunyian adalah mengesampingkan ketenaran, persetan dengan sanjungan.

Tidak seperti kami (dan mungkin siapapaun yang waktu itu mengaku aktivis). Huruk-huruk berbondong-bondong mengikuti tren perjuangan jalur ramai, yakni sebuah jalan perjuangan yang mainstream, diikuti oleh kebanyakan orang.

Ada dua jalur, yakni jalur ramai dan jalur sunyi. Saya meng-klasifikasi, jalur ramai itu ditempuh oleh mereka yang suka berada di depan dan perjuangannya diketahui publik luas. Orang-orang yang memilih berada di jalur ramai ini cenderung superhero. Masih ingat adigium militer yang dulu sempat saya kutip dalam tulisan-tulisan sebelumnya? “Kemenangan kecil yang disaksikan seribu orang, itu lebih penting ketimbang kemenangan besar yang hanya disaksikan oleh sepuluh orang”. Demikian, prinsip orang-orang yang berada di jalur ramai, mungkin demikian.

Mereka yang termasuk dalam kategori di jalur ramai ini, banyak sekali. Tiga contoh saja misalnya, pertama, kandidat-kandidat pejabat publik yang haus akan kemenangan, yakni mereka yang menganggap bisa berjuang kepada banyak orang asalkan memiliki kewenangan untuk menentukan kebijakan dalam mengendalikan sistem, baik dengan cara mendapat posisi di pimpinan maupun duduk di parlemen. Pola pikir semacam itu ternyata masih sering ditirukan oleh mahasiswa yang haus akan jabatan dan popularitas di kampus.

Kedua, yang masuk dalam kategori di jalur ramai adalah aktivis banner. Siapa itu aktivis banner ? Yaitu aktivis yang merasa berjuang demi orang banyak, namun setiap kali berjuang selalu menonjolkan identitas mereka dengan cara-cara yang menggelikan, seperti memajang slogan perjuangannya melalui banner-banner, spanduk-spanduk, kaos-kaos event. Ya, disitu dipampang sebuah tulisan-tulisan narsis keakuan serta dibumbui dengan kata-kata keren. (Saya pernah termasuk dalam kategori ini, mungkin sampai sekarang, hehe).

Ketiga, pejuang ngambang. Yakni mereka yang berjuang sebab terprofokasi oleh isu-isu beredar. Yang lain aksi menolak kenaikan harga BBM, ikut-ikutan aksi. Yang lain bergerak menekan penutupan lokalisasi, ikut-ikutan. Lagi-lagi saya pribadi juga pernah berada di jalur ini, hingga akhirnya berhenti setelah diceramahi oleh saudara seniorku, yaitu khadrotussyeh romo Andi Makhifal almutanajjis, alkhinjiri, almukharom, bersabda: “Ada tiga pilihan sikap, yakni mengikuti arus, melawan arus dan membuat arus. Coba pikir ! dari ketiga itu kamu pilih yang mana ?” Akhirnya pilihan itu saya jawab dalam hati, meskipun dimulut berucap “tletong” sebab jengkel dengan gayanya bertanya yang sok- iyes.

***
Semoga Tuhan meridhoi siapapun mereka yang berjuang di jalur ramai (terlepas itu berapa kadar iklasnya dan berapa kadar narsisnya), maupun yang berada di jalan sunyi. Eh, kapan-kapan saya sajikan beberapa kisah inspiratis tentang para ksatria itu dalam tulisan tersendiri, dalam bentuk karya features. Selamat menunggu ketidakpastian janjiku ya? Bye bye.

Tulungagung, 25 Agustus 2014 
Oleh Fikri Mustofa (Lik Upik

Comments

Popular posts from this blog

Aku di Rumah Janda

Rintihan Aktivis Hormonal; Kisah Haru Si Bekos

Menjadi Penulis Tanpa Bayaran