Agustus dan Mereka yang Terobsesi ke Puncak
Jauh hari sebelum Agustus tiba, 4 – 5 rombongan merencanakan untuk muncak di pegunungan menarik sekitaran Tulungagung Trenggalek pada malam 17 Agustus, mereka hendak mengajakku. Mohon maaf, tak satupun yang kusanggupi.
Banyak alasan bagi saya pribadi untuk
menolaknya. Pertama, faktor usiaku.
Memang belum tua-tua amat, namun untuk kegiatan huruk-huruk semacam itu, masa itu sudah saya lewati sejak tahun
dulu saat masih merasa muda. Kedua,
saya juga mulai bosan, lantaran sudah cukup sering untuk sekedar menaklukkan
puncak-puncak gunung bahkan di luar pulau Jawa sekalipun. Bahkan telah banyak puncak
yang saya kencing diatasnya, yang artinya, tanda kekuasaan bahwa saya telah
menaklukkannya, selain memang karena kebetulan kebelet pipis.
Ketiga, huh,
semua orang juga sudah tahu siapa saya, terlahir dan dibesarkan di lingkungan pegunungan.
Maka, aktifitas naik gunung bagi saya bukan lagi sebuah suasana baru, bukan
lagi sebagai ajang refresing, memang itu sudah rutinitasku di kampung. Saya
tinggal di pegunungan sudah terbiasa dengan ketinggian. Sehingga tidak heran,
bila doa-doaku mudah dikabulkan Tuhan, sebab secara jarak ke langit memang
lebih dekat daripada orang-orang yang tinggal di dataran rendah kota. Hehe.
Keempat, dan
alasan yang lebih tepat lagi adalah, saya tidak mau di cap oleh teman-teman,
muncak di malam 17 an, adalah hanya sekedar obsesi akibat pengaruh media,
film-film seperti film 5 cm itu. Film
yang mengisahkan 6 orang bersahabat, orang-orang kaya, pendaki pemula pergi ke
puncak setelah bersepakat untuk berpisah lama. Sisi yang ditampilkan dalam film
itu romantis-melankolis, humoris, serta
dramatis namun tidak cocok dengan kehidupanku apabila saya ikut-ikutan menjalani
aktivitas kurang kerjaan itu.
Saya hanya bisa menebak, hari-hari
ini, diantara sekian banyak rombongan pendaki amatir yang pergi muncak di malam
17, pasti ada yang hanya terobsesi dengan film-film semacam itu. Tidak ada salahnya
sih, tapi bila ada resiko ya silahkan di
tanggung penumpang.
Saya sebenarnya suka mendaki gunung,
dan dulu sering melakoninya. Diakui atau tidak, sedikit banyak memang karena
faktor pengaruh film juga, waktu itu sebab film yang berjudul Gie. Film yang mengisahkan aktivis muda
angkatan tahun 66, namanya soe hok gie
yang berjiwa pemberontak, sosok anti kemapanan, aktivitasnya suka naik gunung
dan giat menulis, namun sayangnya mati muda alias tewas di usianya yang masih
lajang.
Sebab pengaruh film itu, pada waktu
itu saya berubah menjadi pribadi yang sok puitis dan heroik. Tak ada
detik-detik di setiap perjalanan yang kulewati tanpa cacatan harian, bahkan saat
ada daun jatuhpun aku tulis dengan nada yang sangat melankolis, sesekali
bernada memberontak terhadap kemapanan. Bagi orang waras, sikap autis saya
waktu itu, sangatlah dianggap tidak normal.
Hampir gerak-gerik tindakanku, saya
pas-pasin dengan gaya tokoh pemeran utama dalam film itu. Bahkan sempat
kefikiran, alangkah kerennya bila saya ikut-ikutan mati muda seperti gie, tapi setelah saya pikir-pikir, eh saya
masih punya orang tua ya !!! Nggak jadi deh, nggak sudi !!!
Hingga kini aku baru sadar, bahwa mustahil
bagi siapapun untuk meniru atas diri tokoh yang diidolakan sekalipun. Karena
Tuhan menciptakan kita, supaya kita menjadi diri kita sendiri, bukan menjadi
orang lain. Salam super….. !
Sayangnya, aku dan kamu bukanlah gie, kita ini terkadang tidak cukup
memiliki alasan yang tepat kenapa harus pergi ke puncak di saat yang bagaimana.
Tidak seperti gie yang memiliki alasan
menarik, “berbagi waktu dengan alam maka
engkau tahu siapa dirimu yang sebenarnya, hakikat manusia”. Pahami sendiri makna
dalam catatan yang dilagukan ini, saya malas di cap menggurui !!!
Kembali ke topik mendaki di malam
17-an.
Jangan bilang, bila pergi ke puncak
pada malam 17-an dengan alasan memperingati hari kemerdekaan, demi refleksi
untuk menggugah kembali semangat nasionalism, bila ujung-ujungnya hanya
kedok kencan dengan gebetan, dalam hal
ini saya sangat tidak terima. Dieng !!!!
Saya heran, ditokohi oleh siapa, dan
sejak tahun berapa, malam kemerdekaan diperingati di puncak gunung, saya tidak
tahu. Coba kita kroscek sejarah, upaya berjuang merebut kemerdekaan, pada malam-malam
menjelang kemerdekaan itu, setahuku terjadi aktifitas culik menculik antara
tokoh muda dan tokoh tua. Bukan aktivitas culik-menculik terhadap gadis-gadis dengan
mengelabuhi orang tua mereka, berkedok naik gunung. Lagu lama.
Apakah phenomena ini memang benar-benar
ahistoris, atau hanya perasaan kecemburuanku sebab tak berhasil menculik gadis
?
Kesadaran nasionalisme tidak cukup
dibangun hanya dengan mendaki. Memang seketika saat puncak bisa jadi semangat
itu akan tumbuh, tapi apalah artinya, bila ujung-ujungnya semangat itu hanya berkobar
sesaat dan kemudian energi itu luntur seiring perjalanan turun gunung, yang ada
hanya pegal-pegal dan kaki kram. Pada akhirnya tidak melakukan apa-apa
setelahnya. Ibarat selesai sholat, namun tetap bersikap mungkar. Begitu kata
hatiku yang pas alim.
Menurut perdebatan yang dihelat oleh
teman-temanku mahasiswa yang masih doyan diskusi, banyak persoalan di
masyarakat yang hari ini belum merdeka. Kalau tak salah, itu juga yang setiap
kali di-orasikan saat menyambut mahasiswa-mahasiswa baru. Entah perkara asset
negara yang dikuasai asing lah, entah perkara perdagangan yang dimonopoli kapitalis,
entah tentang kemiskinan, pengangguran dan setumpuk masalah negeri lain.
Lantas, apakah persoalan-persoalan
yang belum merdeka tersebut akan selesai setelah kita reflesksi naik gunung, bukankan
rutinintas peringatan itu menjadi sesuatu yang sia-sia. Atau beres setelah kita
berdebat hingga muncrat ludah dan muntah-muntah? Demikian pertanyaan naifku,
yang saya sendiri tidak bisa menjawab.
Jika saja Bung Tomo, pada zamannya
dulu mampu mempengaruhi massa dengan orasinya, demi kemerdekaan dari bangsa
asing. Gie, pada zamannya mampu
mempengaruhi orang-orang dengan tulisannya, demi kemerdekaan dari pemimpin
diktator. Namun, apa yang bisa dilakukan oleh bocah-bocah tengik yang masih
berbau kencur seperti kita, demi kemerdekaan dari persoalan kekinian?
Di negeri yang serba ruwet ini, saya
hampir pesimis, mustahil anak muda dapat menyelesaikan persoalan yang komplek dan
kronik. Apalagi kita hanya bocah yang tidak mengetahui wawasan makro dan
sistemik.
Satu satunya harapan kemerdekan
adalah dengan memerdekan diri sendiri, cukup hanya dengan memerdekaan diri dan
tidak merepotkan orang tuamu, itu saja sudah baik. Setidaknya itu saja, melakukan
apa-apa yang bisa kita lakukan, minimal sumbangsih itu saja, tapi kalaupun
memang bisa melakukan hal luar biasa sebagaimana tokoh-tokoh terdahulu, ya gak
apa-apa, silahkan, coba saja.
Waktu sudah menunjukkan pukul 02.00
WIB dini hari, saatnya menghitung laba. Sekian.
Tulungagung, 18 Agustus 2014
Oleh Fikri Mustofa (Pimpinan Umum
PBB, Perserikatan Bakul Bacem)

Comments
Post a Comment