Identitasku; Sekedar Upaya Menghibur Diri

Di Watulimo - Trenggalek aku dilahirkan pada tahun gentingnya Perang Teluk  Irak sedang berkecamuk. Di kamar yang lusuh, kemudian dibesarkan dengan belai mesra lentik jari Ibuku yang tulus dan Bapakku yang sabar. Aku adalah anak kedua dari dua bersaudara, bersama kakakku perempuan, yang selalu menimang manis saat kecilku. Sampai kira-kira umur 12 tahun, kelas enam sekolah dasar, aku bertahan tinggal di daerah yang cukup terisolir dari peradaban kota. Meski demikian, dusun kelahiranku adalah dusun teramah sedunia dari dusun lain yang pernah aku kenal, desa dengan sejuta kenangan akan masa kecilku.

Dalam sidang majlis syuro di keluargaku, pada awalnya menentukan nama untukku dengan sebutan “Fikri Haikal”. Akan tetapi Ibuku merasa ganjal mendengarnya, takut kalau besar nanti di panggil “Hai Fikri Nakal”. Maka  beliau memutuskan nama “Fikri Mustofa” yang artinya fikiran yang jernih atau fikiran pilihan.

Berikut biografiku. Lahir hari senin kliwon, shio kuda, aqurius. Menurut Majalah Horizon yang aku baca di toilet kemarin, menuliskan ciri-ciri orang tersebut : tegas tapi santun, setia padahal punya banyak pilihan, tidak sombong padahal hebat, bersahaja padahal kaya, keliharan cuek padahal iba, baik dan simpatik, tidak berlebihan namun rupawan, pekerja keras padahal mapan, pemimpi hebat dan pekerja kongkrit, berani namun sopan, merendah padahal cerdas, malas dipuji padahal dermawan, liar namun ramah dan yang paling penting adalah penyayang.

Tanggal kelahiranku ? hmmmmmmm….  Kayaknya mulai sekarang kau harus gemar menabung serta siap-siap memikirkan hadiah yang menarik sebelum kuberitahu kapan tanggal lahirku, 11 Pebruari.
Jenis kelamin, laki-laki (udahlah gak perlu banyak komentar ya !?). Tidak punya pacar kan bukan berarti tidak suka perempuan.

Tertarik dengan: perempuan, pandangan politik : Partai Nasgor, golongan darah : O, sepeda motor: Honda CB tahun 1980 (yang sering mogok), mobil : Mitsubishi Outlander 2013 (belum lunas), facebook : Fikri Mustofa, twitter : @fikry_mustofa, fanpage : Fikri Mustofa, Hp : 085 646 701 766, NIM : 3214093059 (tolong di-invite ya), IPK : 3.82 (Cumlaude).

Pendidikan
Sejak umur 12 tahun sampai sekarang, aku tidak lagi mukim di rumah, dalam rangka mengenyam pendidikan di bangku sekolah, dari sekolah menengah pertama di Bandung, menengah atas di Durenan, dan pesantren di Bandung juga, hingga sekarang kuliah di Perguruan Tinggi Negeri di Tulungagung jurusan matematika.

Aktivitas dan hobi
Umur 4-7 tahun : Origami, perang-perangan, pasar-pasaran.
Umur 8-11 tahun : Petak umpet, dakon, gedrik, jenthik, andol, gempuran, nekeran, kasti, benteng-bentengan,
Umur 12-14 tahun : Playstation, sepak bola, takrow, bilyard, remi, catur, monopoli,
Umur 15-17 tahun: geng-gengan, bela diri, berantem.
Hobiku kini:
Hobi yang berkaitan dengan hal-hal potitif menurut bapakku, meliputi belajar berwirausaha, berpetualang ke luar kota, menulis, desain grafis, diskusi dan sharing tentang apapun.
Sedangkan hobi yang berkaitan dengan selera hibur, meliputi bermain gitar, futsal, playstation, menyanyi – di kamar mandi, ngopi, berorganisasi, jalan gunung.
Hobi yang sifatnya pasif-pasif saja, meliputi nonton televisi humor, penikmat karya seni orang lain, membaca karya tulis orang lain, browsing internet, lihat-lihat kebun sayur organik dan bunga.
Musik favorit : Slank, Iwan Fals, Franky, Payung teduh, Sheila, Ipang– dan hampir semua musik Indonesia tahun 1990-an kebawah, terlebih lagi musik tradisional. Musisi lain seperti Ari Lasso dan Melly Goeslow.
Jenis musik yang suka tapi biasa saja : music jazz, keroncong, regae dan punk. Musik yang paling aku benci : ngak-ngek-ngok, segala macam merk BoyBand, segala jenis band yang galaunya berlebihan serta alay.

Cita-cita
Yang jelas, pertama-tama harus menempatkan cita setinggi-tingginya, yakni pengabdian total untuk agama, bangsa dan umat manusia serta lingkungannya.
Namun, melihat kemungkinan  sumber daya diri yang sangat terbatas. Dalam waktu lima tahun terdekat ini, targetnya hanya akan  menyelesaikan bidang usaha yang kongkrit untuk digeluti, meliputi bisnis permediaan, perusahaan bisnis produk minuman menyehatkan, kafe dengan karakter tertentu – masih dirahasiakan, dan mendirikan rumah galeri karya kesenian serta percetakan.
Harapannya, paling tidak dalam waktu 10 tahun lagi, saya sudah menguasai bisnis permediaan di Indonesia, menguasai bisnis minuman yang menyehatkan dalam persaingan Internasional, kafe-kafe di seluruh penjuru negeri serta mendirikan perusahaan percetakan.
Minta tolong doa restunya ya ???!!! Semoga kamu bisa lebih hebat daripada sekedar pencapaian saya ini.
Adapun kegiatan-kegiatan kegemaranku lain yang seharusnya tidak saya kategorikan dalam pekerjaan meliputi hal-hal berikut ini.
-          Pendidikan dan pengajaran bukan untuk mencari gaji, melainkan mengajar murni untuk pengabdian pendidikan. Minimal menjadi guru dalam pengertian sempit atau paling tidak mampu mendirikan sekolah gratis bagi anak yang tidak mampu. Fikri, sebagai mahasiswa matematika, kenapa kamu tidak melamar guru sukuan di unit sekolah mana gitu, mulailah karir mengajar dari sekarang donk ? Iya, saya dengar kok saranmu dan terimaksih atas masukannya.
-          Organisasi sosial bukan orientasi profit, melainkan murni pengabdian sosial. Minimal mampu membantu dan merawat makhluk Tuhan yang memiliki cacat dan kekurangan tertentu dalam kacamata sosial, serta paling tidak mendirikan yayasan sebesar mungkin untuk menampung dan memberdayakan fakir miskin, yatim piatu, panti jompo, kaum difabel, organisasi yang bergerak di bidang pelayanan bantuan hukum, organisasi gerakan peduli lingkungan dan lain sebagainya.
-          dan Keagamaan.
Sebenarnya banyak keinginan lama, yang berkaitan dengan karir kerjaku kemudian. Namun lambat laun mulai pudar dan semakin aku tinggalkan jalan menuju situ. Sepertihalnya ini, dulu sempat tertarik di bidang Event Organizer (EO), Non Government Organisisation (NGO), kontraktor pembangunan sebagaimana makanan sehari-hari bapakku, bekerja di ruang kantor perusahaan besarnya orang lain. Opsi lain setidaknya berkarir di partai politik, ataupun bekerja di birokrasi sipil pemerintahan. Namun, semua keinginan yang terakhir ini semakin terkubur oleh cita-cita lain yang menurutku lebih baik.
Begitulah, menurutku sah-sah saja kita merevisi cita-cita. Bedakan dengan inkonsisten.

Kisah percintaan
Lajang. Hehehe. Semoga status ini segera direvisi. Iya kuakui, saya sering jaim terhadap perempuan, meskipun…… siapa sih yang tidak butuh perempuan. hehee
Bila temanku, sering mengakhiri hubungan cinta dengan kata, “sebaiknya kita putus”. Maka saya sering mengakhiri kisah dengan kata “sebaiknya kita tidak melanjutkan jadian saja ya, sebaiknya”. Hehehe. Ya begitulah sekenario Tuhan selalu menarik, dan selalu ada pembeda mana orang lazim dan mana orang unik.
Bila teman-temanku sering menghabiskan masa hidupnya untuk pacaran, dan sisanya adalah PDKT. Maka saya sering menghabiskan waktuku untuk saling taarufan dan sisanya adalah lajang total.
Ilustrasinya begini, misal dalam selang waktu 12 bulan. Lazimnya pola kisah temanku: bulan pertama melirik kanan kiri, bulan kedua kenalan dan PDKT, bulan ketiga sampai kesepuluh adalah jadian dan pacaran, bulan kesebelas penuh dengan pertikaian dan akhirnya putus, bulan keduabelas jomblo dan gantung. Hehe.
Kalau pola kisah aku : bulan kesatu dan kedua itu melirik-lirik, bulan ketiga kenalan, bulan keempat sampai kesepuluh taarufan dan saling PDKT, bulan kesebelas adalah ambil keputusan untuk tidak saling jadian, bulan kedua belas bakar-bakar sumur. Hehe.
Izinkan saya sedikit ngelantur. Saya sampai bingung kenapa pola cerita percintaanku akhir-akhir ini selalu begitu, mulai saat kuliah semester awal sampai sekarang. Mungkinkah gara-gara traumatik benci dengan kata “putus” saat aku masih ABG dulu. Sebab saya menganggap, putus adalah persoalan antara menyakiti dan disakiti, keduanya sama-sama tidak enak. Maka dari itu, alam bawah sadarku membisikkan agar penuh kehati-hatian dalam memilih perempuan, walaupun  pada akhir yang tidak ketahui akan tiba pada suatu hari yang biasa. Hmm-he.
Setiap hendak bergerak melalukan progres menjalin kisah asmara dengan perempuan tertentu, selalu dihantui dengan kata, Fikri, apakah kau berani menjamin tidak akan menyakiti perempuan itu, apakah kamu tega bila sampai ada yang sakit gara-gara cinta, apakah setelah nanti putus cinta kemudian kau akan memutus tali silaturhmi, apakah kamu mau ikut-ikutan menjadi lelaki bajingan seperti teman-temanmu yang brengsek itu.
Hingga pada suatu kesimpulan terakhir, saya sudah tidak saatnya lagi mencari pacar, melainkan mencari calon ibu dari anak-anakku nanti. Titik.
Yang jelas, ambil hikmahnya saja

Comments

Popular posts from this blog

Aku di Rumah Janda

Rintihan Aktivis Hormonal; Kisah Haru Si Bekos

Menjadi Penulis Tanpa Bayaran