Pahlawan Tanpa Tanda Tamat Belajar
Lalu
kapan saya akan diwisuda
Adik
kelas sudah lebih dulu
Hati
cemas merasa masih begini
Teman
baik sudah di D.O.
Orang
tua di desa menunggu
Calon
istri gelisah menanti
Orang
desa sudah banyak menganggap
Aku
jaya di negeri orang
Tolonglah
diriku koboi kampus yang banyak kasus
Diriku
cemas gelisah sepanjang waktu-waktuku”
- Panas Dalam –
Tidak lulus
kuliah itu sebuah pilihan atau keterpaksaan?
Sebenarnya
saya adalah anak yang baik hati, penyanyang, sabar dan santun. Namun, ketika
ada yang bertanya tentang skripsi dan semester, bisa saja dalam sekejap berubah
menjadi beringas, kejam dan muka saya mendadak memerah serta kepala tiba-tiba
menjadi pening berkunang-kunang. Sebagaimana mendengar lirik diatas, hati saya seperti tersobek-sobek
dan tersinggung serta miris.
Saya hanya merenung, apakah
semua orang hendak menganggap remeh (under-estimate)
mahasiswa yang lama semesternya? Atau barangkali orangtua yang memiliki anak cantik
bakal ragu dan mengurungkan niat mengambil saya sebagai menantu, lantaran
lamanya kuliah saya? Cercaan sering muncul dari dosen, “Kuliah sampai 6 tahun, apa
bedanya mahasiswa dengan SD?” Begitu kira-kira.
Sekian semester menjalani
kuliah di institut yang katanya masih murah ini. Tentu, mulanya saya pribadi bangga
dinyatakan lolos seleksi penerimaan maba sekitar lima tahun silam. Bahkan orang
tua saya menggelar selamatan di kampung, saking bersyukurnya, maklum, dulu di
kampung hanya satu-satunya anak yang nekad kuliah.
Tidak tahu
bagaimana perasaannya sekarang setelah menerima kenyataan bahwa anaknya tidak
segera kelar kuliah. Semoga diberi ketabahan. Amin. Hehe.
Banyak
alasan yang dihadapai oleh mahasiswa seperti tidak sanggup membayar iuran
semester, tanggungan mata kuliah tidak dapat diambil karena IPK tidak mencukupi
untuk mengambil mata kuliah lainnya, putus cinta lalu stress, nilai tidak
kunjung keluar dari dosen, terlalu sibuk dengan urusan organisasi kampus, yang
pada akhirnya membuat mahasiswa terpaksa menjadi “koboi kampus”.
Namun,
saya tidak beralasan seperti itu. Dan tolong !! sekali lagi, tolong jangan
menganggap bahwa persoalan lulus atau tidak lulus hanya melulu karena
alasan-alasan itu. Saya kira, masih banyak alasan lain yang masih realistis dan
bisa diterima nalar.
Alasan
yang saya maksud, bukan sekedar alasan yang dibuat-buat lho. Begini contoh alibi
yang sering dibuat-buat:
“Hindari
kelulusan dini, wisuda dini hanya akan menyebabkan serangan jantung dan tidak
terkendalinya sarjana prematur yang belum siap lahir”
“Bukan
lulus tepat waktu yang kita kejar, tapi cari waktu yang tepat untuk lulus”
Dan slogan-slogan lain. Pikir saya, “sak ombo-ombone alas wilis, isih ombo
alasanmu su”. Setidaknya masih banyak alasan lain yang lebih keren. Hehe.
***
Saya memiliki teman, anak atambua, Nusa
Tenggara Timur. Mahasiswa semester belasan
di Universitas Sanata Dharma, Jogjakarta. Sebut saja namanya Anus (bukan nama sebenarnya). Banyak hal
aneh (kadang juga hal penting) yang sudah dia lakukan selama menjadi mahasiswa.
Ia tidak pernah terpikir untuk
mengerjakan skripsinya, sementara pekerjaan ia sehari-hari adalah mengerjakan
skripsi orang lain untuk menyambung hidupnya selama bertahan di Jogja, hingga pada
akhirnya pilih mengakhiri masa kuliahnya tanpa wisuda, alias Drop Out (DO).
Over Dosis (OD).
Ia sangat aktif di organisasi, namun
tidak pernah menyatakan dalih kuliah terganggu karena organisasi. Setahu saya,
orang itu masih waras, bahkan lebih waras dari saya. Tidak sedikit, urusan demi
urusan ia selesaikan dengan cepat dan sempurna.
Ia sering mengisi pelatihan dari satu
kota ke kota lain antar pulau, kurator
tanpa bayaran. Berhasil
merekonsiliasi beberapa konflik organisasi, lobi untuk kegiatan nasional pun banyak
yang berhasil ia tangani. Artinya, ia memiliki kecakapan dalam segala hal, bahkan
multitalent. Itu yang membuat saya iri.
Menurut saya yang polos ini, hal itu
aneh !!! Bisa-bisanya orang semacam itu kog tidak selesai kuliah.
Dan (mungkin) masih banyak mahasiswa
lain yang serupa dengan jalan hidupnya. Di kampus saya sendiri, tidak sedikit
senior yang sempat saya figurkan, atas keberaniannya, atas kelihaiannya, atas pengetahuannya.
Namun pada akhirnya mereka memilih status “tanpa tanda tamat belajar” setelah
menempuh kuliah selama belasan semester.
Mereka bukanlah orang yang bodoh dan
tidak berguna.
Sudah berapa banyak generasi di
Indonesia yang telah ia didik melalui pelatihan-pelatihan yang ia isi. Di
tengah jaman yang serba bayar ini, sudah
berapa banyak masyarakat yang menerima kemanfaatan atas pengabdiannya untuk
mengawal persoalan kebijakan yang timpang, namun ia memilih untuk membantu
walau tanpa dibayar.
Banyak hal yang sudah ia korbankan untuk
orang lain semasa kuliahnya, apakah menurut anda yang budiman ini, mereka sama
dengan dholim terhadap diri sendiri? Masih tegakah anda mencercanya.
Bagi saya, justru merekalah para
pemenang yang tidak takluk dengan aturan civitas akademika, yang saya sendiri,
sepertinya tidak bakalan mampu meniru jalan hidupnya.
Wisuda adalah simbol kekalahan mahasiswa
terhadap civitas akademika, yang dalam hitungan beberapa bulan lagi, insya
allah saya juga segera dikalahkan. Semoga, semoga saya kalah. Dan pada akhir
kesimpulan, ternyata saya masih seperti mahasiswa seperti lazimnya, tidak mau
menerima gelar “pahlawan tanpa tanda tamat belajar”.
Namun, bagaimanapun juga si Anus tetap menganggap
penting pendidikan di perguruan tinggi yang menyadarkan dia bahwa perguruan
tinggi itu ternyata tidak penting.
Dan maaf kepada dosen-dosen kami, engkau
telah mendidikku, dari aku yang dahulu bodoh sampai kini aku menjadi orang
berani, setidaknya berani melawanmu.
Untuk anus, selamat jalan anus, selamat
jalan untuk menjadi orang biasa lagi di kampungmu. Dan maaf, saya tidak bisa meneruskan
jalanmu.
Opini ini bukan bermaksud pembenaran
atas diriku yang menempuh kuliah lebih dari 4 tahun, opini ini hanya ajang latihan
menulis saja. Hehe. Masih ada opini yang belum runtut, akan saya perbarui
besok, soalnya sekarang keburu-buru hendak pulang ke Tulungagung, kayaknya
ketinggal kereta. Sekian.
Jogjakarta, 04 Maret 2014
Fikri Mustofa (Mahasiswa IAIN Tulungagung semester dua, dua digit)
.
ReplyDeleteDAPET REJEKI NOMPLOK
KENANGAN ITU BERMUNCULAN KEMBALI
AKU PERGI DULU SAYANG, MUNGKIN KU TAKKAN KEMBALI
.