Kritik untuk Februariku
“Engkau
adalah sejuk yang angin bawa di Februari! Halaaah, tai ngasu”
***
Kemana-mana
ia lebih sering sendirian. Pilih mempersembahkan energinya setiap
hari untuk membaca dan menulis ketimbang ndongeng
dengan teman, tidak seperti bulan-bulan
sebelumnya. Kalaupun bertemu orang, paling-paling lebih memilih
sedikit bicara. Sekali bicara, hanya akan membuat teman lain terpicu
untuk membantah.
Kelihatannya
orang ini sedang sakit. Ia membutuhkan obat pelampiasan apapun,
sebagai alasan untuk tertawa. Segalanya dilakukan, bahkan tindakan
apapun dianggap halal. - Selagi belum ada yang mengharamkan. Hemm.
Satu persatu
obat itupun ditelan.
Obat
pertama, ia mengawali hari dengan
membaca buku-buku humor. Hampir setiap pagi di bulan ini. Beharap ada
lelucon walaupun ia sudah tahu bahwa pada akhirnya pasti tidak minat
untuk tertawa jua. Bahkan hanya untuk tersenyumpun enggan. Ia mencari
kelucuan dari setiap tulisan yang dibacanya, lembar demi lembar, buku
demi buku, dan berakhir tanpa tawa.
Seolah-olah
memang sudah tak ada lagi hal lucu di bumi manusia ini, kalaupun ada
hanyalah lelucon drama-sandiwara yang dibuat-buat, ah itu semakin
memuakkan saja. Meski begitu ia tetap membacanya sampai selesai,
tahu-tahu pantat sudah terasa pegal-pegal.
Obat
kedua, ia mengakhiri malam dengan
menulis, namun tak kunjung selesai. Dari sekitar lima belas bayangan
judul, paling-paling cuma selesai satu. Selebihnya hanya berupa
tulisan setengah matang. Kalaupun diselesaikan, ia sendiri malah
tidak paham maksud tulisannya.
Namun
setidaknya, obat kedua ini lebih manjur sedikit. Sebab, cara ini
mampu mewadahi semua ekspresi atas perasaan hatinya secara tulus.
Bila marah, ia cukup mengetik kata “janc*k”
sebanyak 100 kali serta semua jenis
umpatan caci maki lainnya, tanpa harus melukai perasaan orang lain
seumpama mendengar umpatan kotor itu.
Obat
ketiga. Sehabis suntuk membaca,
bergegas ia mondar-mandir tak terarah tujuannya. Ya, tak satu
setanpun tahu maksudnya. Ketika bertemu teman, maka di saat itulah ia
mulai mendefinisikan teman sesuai deskripsinya yang paling jelek,
kemudian mengejawentahkan ide itu dengan mengganti nama asli teman
menjadi sebutan yang paling menjijikkan.
“Westalah
….gak usah marah, lagian kau tak
pernah tenar bila tetap mempertahankan nama lamamu. Jadi, bolehlah
sekali-kali spekulasi dengan nama baru, siapa tahu lebih beruntung,
hahahaha”. Begitu penguatannya untuk
meyakinkan teman agar namanya ikhlas untuk diganti.
Cara ini
sedikit mengurangi kepenatannya, sebab jika sebelumnya hanya
malu-malu mengadu hati lewat tulisan, setidaknya ini sudah mulai
berani dalam bentuk tindakan.
Obat
keempat, mengejek lawan pemain catur
yang kalahan. “Sebaiknya kamu sholat
dulu, seumpama nanti rajamu kalah setidaknya mati dalam keadaan
Islam, hahahaha”. Begitu salah satu
nada congkak yang keluar dari mulutnya. “Lho, kamu
cuma bisa makan punyaku ini saja tho, pantesan tubuh kamu kurus
sekali,” ejeknya sekali lagi.
Demikian ia terus mengejek lawan.
Lantas, lawan
pun balik melakukan pembelaan, “Bulan
Februari memang sering hujan ya ?! pantas mulut kamu licin”.
Kalau tidak begitu, “Bapak kamu
barusan ngepel lantai ya, mulut kamu kog liciiin sekali”.
Baginya,
tidak ada kemenangan yang lebih menggembirakan daripada kemenangan di
atas papan catur. Beruntungnya, sekali menang ketepatan dilihat oleh
orang banyak. Dan apesnya lawan, menang dalam keadaan tidak ada yang
menyaksikan. Hal ini mengingatkan akan prinsip adigium militer di
orde baru. “Kemenangan kecil yang
disaksikan oleh seribu orang, itu lebih berharga daripada kemenangan
besar yang hanya disaksikan oleh sepuluh orang”.
Kayaknya ia mulai terprofokasi dengan prinsip-prinsip militer yang ia
sendiri pernah mengkritiknya.
Kenapa ia
tampak gembira, hanya gara-gara menang main catur. Apakah di bulan
ini benar-benar tidak ada prestasi lain yang lebih layak dibanggakan?
Jawabnya, tidak ada. Memang ia telah sukses menyelesaikan tugas dalam
beberapa hal, berhasil melobi beberapa intansi untuk mendukung
beberapa kegiatan acaranya, berhasil melunasi hampir semua
hutang-hutangnya yang berjumlah puluhan juta saja, dan
keberhasilan-keberhasilan lain. Tapi keberhasilan-keberhasilan kecil
seperti itu baginya hanya fana’. Maka
itu, meskipun hanya kemenangan bermain catur, namun tak kalah
membanggakan, bangga dengan alasan yang ia sendiri tidak bisa
menjelaskan.
Obat
kelima, mengolok-olok teman karib
dengan tema kemiskinan. Memang kedengarannya tak beradab, namun
bagaimana lagi ya, ia tetap saja tega untuk melontarkan. Dan semakin
tega. Padahal sebenarnya ia sendiri tak kurang miskin, bahkan jauh
lebih miskin dari teman yang dihinanya. Terserah kau sebut ia tak
manusiawi. Tenang saja, kawan. Ia tak sejahat dalam bayanganmu, ia
masih mengenal etika.
Sekali-kali
di warung kopi. Itupun bila ada yang mengajak – dan siap bayari.
Dalam kondisi seperti ini, sebisa mungkin untuk menghindari topik
dengan tema kemiskinan. Sekali keceplosan bicara, bisa-bisa menjadi
boomerang makan tuan.
Aneh, perihal
harga diri dan kemiskinan saat di warung kopi selalu aneh. Kesialan
dialami oleh temannya, seorang aktivis organasisasinya yang menjabat
sebagai ketua. Sial sekali ketua itu, diakui sebagai pimpinan
organisasi (secara de facto
dan de jure)
hanya saat perbicangan di warung kopi hendak diakhiri sampai beberapa
menit kemudian setelah berhadapan dengan kasir. Hahaha, selebihnya
kurang diakui.
***
Sebenarnya
apa yang membuat ia tampak sakit seperti ini?
Bukan karena
tidak ada yang memberi kado saat hari ulang tahunnya kali ini. Ia
tidak berharap banget, ada yang membangunkan di tengah malam
pergantian usia, terus di depannya ada lilin dengan angka 23.
Baginya, cukup dengan membaca ratusan ucapan selamat di inbox saja,
itu saja sudah cukup. – Cukup memprihatinkan. Hhee.
Juga bukan
karena tidak ada ucapan kasih sayang yang di valentine kali ini.
Pendapatnya, perayaan 14 Pebruari di Indonesia sebagai hari “kasih
sayang” itu ahistoris. Kalau
memang perayaan hari itu terlanjur sudah membudaya, ya gak apa-apa
tetap diramaikan saja. Syukur-syukur bila pemerintah berani
menetapkannya sebagai hari (terserah nanti disebut sebagai hari apa,
asalkan jangan valentine). Karena seingatnya, tanggal 14 Februari di
Indonesia pernah terlahir seorang pejuang gigih yang terlibat dalam
perlawanan melawan NICA (Administrasi Sipil Hindia Belanda) yang
dibonceng untuk merebut kembali kemerdekaan Indonesia, namanya Robert
Wolter Monginsidi. Bila tanggal itu lebih diperuntukkan untuk
mengingat sosok pahlawan semacam itu, kayaknya Indonesia lebih keren
deh.
Lantas,
kenapa ia tampak gamang. Seolah-olah hidupnya kelihatan tak berguna?
Bukan
kelihatan tak berguna sih, tapi memang benar-benar tak berguna.
Demikian rasa bersalahnya. Tapi dengan cara bagaimana lagi untuk
menebus rasa bersalahnya? Apakah cukup seolah-olah menjadi pahlawan
kesiangan di lokasi bencana kelud seperti yang pernah ia lakukan di
bulan-bulan itu, kemudian rasa bersalahnya terampuni? Apakah cukup
dengan menularkan sedikit ilmu tentang straight
news yang ia miliki kepada
mahasiswa-mahasiswa muda, kemudian menganggap hidupnya sudah berguna?
Tidak cukup.
Ia menuntut hal lebih dari sekedar itu. Namun lagi-lagi, minatnya
terlanjur melebihi bakatnya. Tak semua yang ia inginkan mampu
dilakukan.
Ia adalah
mahasiswa dengan segudang potensi. Tapi ketakutan-ketakutan yang ia
ciptakan akhirnya menjadi belenggu yang menyeretnya pada suatau
keadaan yang gamang. Ohh.. dasar hehehehe. Di bulan ini, ia tak
pernah puas dengan apa yang sudah ia kerjakan, ia kerap berbohong
untuk tidak menjadi dirinya sendiri, ia kerap tidak bersyukur atas
prestasi-prestasinya, ia juga sering mengabaikan kebodohan-kebodohan
yang tak segera diperbaikinya.
Katanya, ia
berjanji untuk membenahi di bulan selanjutnya. Dan ia menitip pesan,
supaya kamu juga segera menyusul untuk membenahi
kesalahan-kesalahanmu pula.
Siapa dia,
orang itu adalah aku. Dan kritik itu ditujukan untuk Februariku.
Sayangnya aku
tidak bisa menceritakan banyak gerutunya di bulan ini, karena
keburu-buru hendak perjalanan ke Tasikmalaya. Bye bye.
Lanjutkan
ReplyDelete