Belum Ada Judul; Tentang “Go Green”
Tasikmalaya,
Jawa Barat, menjadi tempat tujuanku, dalam perjalanan di awal Maret ini.
Saya
selaku utusan pengurus nasional Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) kebetulan diminta untuk menghadiri agenda
pergantian kepengurusan PPMI Dewan Kota Tasik pada 02 Maret di markas Lembaga
Pers Mahasiswa (LPM) Magma Kampus Kesehatan.
Warna
hijau terhampar senantiasa menemani perjalanku menuju lokasi kegiatan,
mengingatkanku akan tema lingkungan yang disepakati oleh organisasi pers mahasiswa
ini untuk dikawal menjadi isu nasional. Pada awalnya saya sempat meragukan
aktivis pers-mahasiswa (persma) sekawananku sendiri, apa mungkin mereka mampu mengawalnya?
Seiring
berjalannya waktu, teman-teman mulai menunjukkan etosnya. Misalnya, aktivis persma
Bali terlibat aktif dalam aksi tolak
reklamasi di Tanjung Benoa, Jember dengan aksi save gumuk nya. Persma di kota-kota
lain pun menyusul untuk mengawal problem lingkungan di daerahnya masing-masing.
Selain terlibat aksi secara langsung, kesemuanya juga gigih mengawal sesuai dengan
porsi medianya; pemberitaan, propaganda isu dan kampanye go green.
Secara
kolektif, teman-teman memang giat mewacanakan isu seksi lingkungan tersebut.
Namun secara individu, wajar bila ternyata tidak semuanya memiliki kesadaran
untuk menerapkan, think green.
***
Agendaku
di Tasik tidak berjalan sesuai harapan, karena ada konflik internal yang belum tuntas,
semacam perang ego antar peserta sehingga menguras energi otakku. Sayapun
bergegas keluar dari gerombolan, ditemani Feri, salah satu aktivis persma dari
LPM Gemercik Universitas Siliwangi, menuju kos nya untuk istirahat sejenak.
Sepengetahuan
saya, kos mahasiswa selalu identik dengan sampah yang menumpuk bahkan di
tiap-tiap sudut bangunan, puntung-puntung rokok yang berserakan di lantai, kamar-kamar
yang lusuh serta halaman yang kering dari hijau tetumbuhan.
Namun
tidak pada kos Feri, suasana hijau terlihat menyejukkan, pemandangan yang sedap
dan cukup menjadi obat yang menenteramkan setelah seharian berada di arena pertarungan
mahasiswa.
Ia
memanfaatkan teras-teras kosong, lahan sempit di sekitar dinding-dinding pagar kos,
dan bambu-bambu bekas pembangunan di kampus untuk kemudian dirakit menjadi
rak-rak tanaman. Dulunya, sore selesai kuliah ia berjalan kaki dari kampus menuju kosnya sambil memikul satu
persatu bambu. Memang, sedikit gokil, aneh dan tidak lazim ditemui di perguruan
tinggi di kota tasik, tapi bagi dia, persetan dengan gengsi. Ia abaikan saja.
Bahkan
menyisihkan bekal kuliah untuk membeli tanah organik, plastik polibek dan bibit
tanamannya. Sudah setahun lebih dia memulai, sekalian juga menerapkan teori yang
ia dapatkan dari fakultasnya, pertanian.
Sepele
memang sepele bila kita menganggap sepele, hanya sekedar sayur-mayur seperti
bayam, kangkung, lombok dan sejenisnya, termasuk juga strawberi. Sekedar tanaman-tanaman
semacam itu, memang tidak cukup membantu daya resapan air bila dibandingkan
dengan jenis tanaman lain yang lebih kuat.
Tapi
setidaknya, mendingan ia mau mulai untuk menanam meskipun hanya sekedar tanaman
macam itu, daripada tidak sama sekali. Daripada mahasiswa lain yang hanya
pandai berwacana tentang pemberdayaan lingkungan, namun omong-kosong pada prakteknya. (GBHK = Gaya Boleh, Hasil Kosong).
Hehe.
Bagi
saya, apapun yang ditanam, saya melihat dari segi kemanfaatannya.
Suasana
kos yang kering, kemudian disulap menjadi hijau, sangat cukup membantu menghilangkan
kepenatan, sebagaimana saya, saat melihat tetumbuhan hijau, seketika langsung serasa
tenang setelah seharian terbentur dengan masalah besar sekalipun. Kayaknya, cocok juga bila kamu
turut mererapkannya, sepulang kuliah atau kerja dengan setumpuk tugas yang
menjenuhkan, bukankan setidaknya kos semacam ini cukup menjadi tempat pulang
yang mendamaikan?
Lebih
menariknya lagi, Feri menawarkan sayur mayuran hasil panen di sekitan kos itu kepada
tetangga sekitar kampus secara gratis. Hal yang juga tidak lazim di lakukan
mahasiswa di kota-kota. Unsur kemanusiaan ini lho yang saya nilai mahal. Ia
memberikan kepada orang lain dengan apa yang ia bisa berikan, walaupun hanya
sekedar ini. Setidaknya cukup untuk menjalin keakraban antara anak kos-kosan
dengan tetangga kos.
Bila
kamu tidak ikhlas untuk melakukan hal serupa sebagaimana teman saya itu, maka setidaknya
hasil tanaman ini cukup membantu mengurangi ketergantungan belanja kebutuhan
dapurmu sendiri. Hehe.
Saya
membayangkan, andaikan itu diterapkan di kos-kos mahasiswa di seluruh
Indonesia. Alangkah menariknya.
***
Kayaknya
aktifitas-aktifitas semacam ini yang musti kita lakukan. Sepele, ringan dan
bermanfaat. Kalau boleh pamer, saya sudah mencobanya di kampus saya sendiri.
Pekarangan sekitaran kantor redaksi LPM Dimensi IAIN Tulungagung, pernah saya
penuhi dengan jenis-jenis tanaman. Mulai dari tanaman sayur sampai tumbuhan jamu.
Namun, akhirnya dimarahi oleh tukang kebun atas intruksi kepala birokrasi
kampus bagian umum. Saya ngalah saja, sambil bilang dasar gendeng !!! Hehe.
Selain
ringan dan bermanfaat, juga tidak ada unsur tendensius. Sebab tidak semua
kegiatan yang berkaitan dengan lingkungan itu selalu netral dari kepentingan. Saya
mulai meragukan beberapa organisasi yang dengan semangat mengkampanyekan aksi
tanam sejuta pohon, misalnya. Saya sedikit ragu setelah di kompor-kompori teman, “bukankah aksi tanam sejuta pohon itu bagian
dari agenda kapitalism” begitu katanya. Kita yang menanam, eh malah orang lain
yang menebang.
Negara
maju selau menghimbau orang Indonesia dan negera berkembang lainnya untuk giat
menanam serta menjaga hutan, sementara mereka setiap harinya tak henti-hentinya
memproduksi polusi dengan jumlah yang tidak sedikit, melalui dapur
industri-industri besarnya. Dasar !!!
Bukankah dua perkara itu saling kontrasepsi. Eh, maksud saya kontradiksi -
salah persepsi. Hehe.
Maka
tidak heran, bila hari ini bermunculan lembaga-lembaga non pemerintahan (NGO)
yang bergerak di bidang lingkungan hidup dengan kedok program penyelamatan bumi, padahal itu program titipan luar negeri
sebagai fundingnya.
Begitu,
salah satu alasan tendensiusnya. Namun ya tidak semuanya begitu.
Tapi,
bila kamu tetap semangat untuk menanam dengan hati yang tulus, mengabaikan
sisi-sisi tendensius apapun, dengan alasan untuk kearifan bumi, maka itu lebih
baik. Berarti dalam alam bawah sadarmu telah tertanam kuat, think green dan go
green.
Go
green artinya “Ayo ngopi”, karena kebetulan ada cafe di deket kampus saya
dengan nama “warkop green”. Hehe, gak lucu.
Tasikmalaya,
03 Maret 2014
Oleh Fikri Mustofa (Mahasiswa IAIN Tulungagung semester dua, dua digit)
yupz......yups......boleh juga.......
ReplyDelete