The Power of Berak

Berak adalah fase konsentrasi tertinggi- selain sholat. Begitu kata kawanku, saat aku masih punya kawan. Banyak ide liar muncul di saat kita sedang berak.

Mau nggak mau, saya membenarkan pernyataan tersebut. Karena, akupun merasakan demikian. Tindakan apapun yang saya lakukan di hari itu, semuanya adalah kendali konsep yang muncul terencana di pagi hari saat berak.

Sebelum mengeksekusi sebuah pekerjaan, maka ibaratnya berak itu adalah jam-jam meeting untuk menyusun strategi, mengkompromikan antara kehendak hati dan pikiran untuk diselaraskan. Apa yang musti dilakukan di hari itu, haruslah berdasarkan hasil kebijakan rapat perusahaan, yakni saat berak.

Dan saya kira, demikian juga banyak orang mengakui hebatnya kekuatan konsentrasi saat berak.

Tindakan yang “sukses” adalah tindakan yang terencana. Perencaan yang baik menentukan hasil yang memuaskan. Sebab, gagal dalam merencakan itu sama artinya dengan merencakan kegagalan. Nah, merencakan sesuatu itu kan belum tentu bisa dilakukan di setiap waktu. Maka, bisa jadi saat berak inilahlah saat yang tepat.

Bagi orang-orang seperti saya – dan kamu yang tidak begitu punya kesempatan untuk membuat kebijakan publik, mungkin topik ini tidak begitu menarik.  Kalaupun kamu punya ide jail sekalipun disaat berak, paling-paling ya tidak begitu berpengaruh terhadap banyak orang.

Tapi, coba bandingkan dengan “mereka” yang memiliki kesempatan banyak untuk membuat kebijakan, peraturan dan perundang-undangan. Sebut saja, misalnya anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan pejabat penting lainnya. Bahaya sekali bila ide nakal dan liar itu bisa muncul di saat berak. Bisa berpengaruh terhadap masyarakat luas, efeknya tentu sangat massif.

Saya curiga. Kebijakan yang tak sehat, perundang-undangan menyesatkan, dan proyek-proyek kotor itu barangkali merupakan buah ide dari saat berak sepagi sebelumnya.
Wuih. . . berak sepagi saja bisa menentukan nasib Indonesia bertahun-tahun. Bisa saja rakyat Indonesia dirugikan hanya gara-gara ulah ide satu orang selesai berak pagi. Apa perlu saya sebutkan contoh kasus kerugian negara akibat oknum nakal? Tentu kamu lebih tahu, lha wong setiap hari selalu ditayangkan di televisi.

***
Bila sudah sadar tapi belum percaya akan kekuatan berak, ayo kita amati dan selidiki bareng-bareng. Maksudnya “bareng-bareng” ya bukan ke toilet bersamaan dalam satu waktu. Maksudnya, kita sama-sama membuktikan, benarkah akan adanya kekuatan konsentrasi yang luar biasa di timing itu, The power of berak. Hehe.

Seandainya sekali dua kali kok gagal, jangan putus asa untuk tetap mencoba di edisi berak selanjutnya. “Gagal” dalam pengertian tidak menemukan titik kefokusan / konsentrasi yang maksimal. Memang begitu sulit, namanya juga pertapa. Bertapa itu kan butuh latihan seara terus menerus.

Dari sini kita bisa mulai menyimpulkan, bahwa belajar konsentrasi adalah bertapa. Namanya bertapa ya wajarlah kalau ada ujian dan tantangannya. Alias ada banyak penggoda.

Leluhur kita yang sering bertapa di goa-goa saja, terkadang masih kalah dengan godaan kog. Apalagi kamu yang bertapa di kamar mandi, pasti godaannya jauh lebih hebat, lebih besar. Apalagi menurut ilmu agama, toilet-toilet itu penuh dengan syaiton-syaiton, khubusti wal khobaits itu.

Bila terlanjur kalah dengan penggoda, bisa kacau semua urusannya. Tidak menemukan ide bagus yang cemerlang, eh malah ketemu ide nakal seperti niatan berperilaku korup diatas. Atau kalau tidak begitu, malah kebayang dengan hasrat wanita seksi, akhirnya ya, bisa-bisa kebablasan onani  di kamar mandi selesai berak. Hiii. Atau mungkin malah onani pas di saat berak. Amit-amit. Eh, kenapa jadi sejorok ini. Maaf keceplosan, berdasarkan pengalaman, pengalaman teman. Ya begitulah tantangannya, tidak jadi menemukan inspirasi deh.

Makanya berdoa dulu sebelumnya, supaya ada berkah dan faedah dari berak. (Masih ingat doa sebelum beol kan? Hehe.

Kalau kamu telah menemukan fadilah masuk WC. Tentu tidak bakalan lagi menyia-nyiakan momentum ini. Sebab bisa jadi, mangkring di toilet itu seraya di surge dunia. Banyak kog yang telah mengakui demikian.
Saat-saat berak itu adalah suatu masa dimana kehidupan akan terasa sangat berharga. Begitu kata pejabat. Tidak ada yang mengganggu, HP mati, jauh dari rasa keingintahuan wartawan. Berak itu serasa cuti nasional. Ya memang begitulah berak.

Saat pikiran lagi stress butuh hiburan seperti karaoke, namun tidak cukup punya uang untuk pergi ke tempat karaoke. Maka, ke toilet itulah alternatifnya. Ke karaoke butuh biaya seratus ribu lebih, ke toilet gratis. Bisa menyanyi sepuasnya. Hasilnya pikiran sama-sama lega. Bedanya, kalau di karaoke bisa sekamar bareng-bareng. Sedangkan di toilet, kalau bareng-bareng ya agak ngeri aja. Hehe

Begitu nikmatnya berada di ruang berak. Asalkan tidak jangan berlama-lama, siapa tahu ada yang ngantri dan konon terlalu lama BeABe itu bisa beresiko wasir. Hehee, (nikmatnya dunia itu memang cuma selalu fana).

Intinya, manfaatkanlah waktu sebaik-baiknya. Berak dengan waktu secepat-cepatnya, namun menghasilkan ide sebesar-besarnya. Ingat, nasib perubahan besar suatu bangsa sepuluh tahun, ditentukan oleh berak sepagi.

Eh, sebelumnya maaf jika kamu bela-beain waktumu untuk membaca tulisan ini, ternyata tidak mendapatkan manfaat apa-apa. Saya hanya mengucapkan “kasihan deh lu”. Sekian terimakasih.

Tulungagung, 10 Pebruari 2014

Oleh : Upik Mustofa

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Aku di Rumah Janda

Rintihan Aktivis Hormonal; Kisah Haru Si Bekos

Menjadi Penulis Tanpa Bayaran