The Power of Berak
Berak adalah fase konsentrasi tertinggi- selain sholat. Begitu
kata kawanku, saat aku masih punya kawan. Banyak ide liar muncul di saat kita
sedang berak.
Oleh : Upik
Mustofa
Mau nggak mau, saya membenarkan pernyataan tersebut. Karena, akupun
merasakan demikian. Tindakan apapun yang saya lakukan di hari itu, semuanya
adalah kendali konsep yang muncul terencana di pagi hari saat berak.
Sebelum mengeksekusi sebuah pekerjaan, maka ibaratnya berak itu adalah
jam-jam meeting untuk menyusun strategi, mengkompromikan antara kehendak hati
dan pikiran untuk diselaraskan. Apa yang musti dilakukan di hari itu, haruslah
berdasarkan hasil kebijakan rapat perusahaan, yakni saat berak.
Dan saya kira, demikian juga banyak orang mengakui hebatnya kekuatan
konsentrasi saat berak.
Tindakan yang “sukses” adalah tindakan yang terencana. Perencaan
yang baik menentukan hasil yang memuaskan. Sebab, gagal dalam merencakan itu
sama artinya dengan merencakan kegagalan. Nah, merencakan sesuatu itu kan belum
tentu bisa dilakukan di setiap waktu. Maka, bisa jadi saat berak inilahlah saat
yang tepat.
Bagi orang-orang seperti saya – dan kamu yang tidak begitu punya
kesempatan untuk membuat kebijakan publik, mungkin topik ini tidak begitu
menarik. Kalaupun kamu punya ide jail
sekalipun disaat berak, paling-paling ya tidak begitu berpengaruh terhadap
banyak orang.
Tapi, coba bandingkan dengan “mereka” yang memiliki kesempatan
banyak untuk membuat kebijakan, peraturan dan perundang-undangan. Sebut saja,
misalnya anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan pejabat penting lainnya. Bahaya
sekali bila ide nakal dan liar itu bisa muncul di saat berak. Bisa berpengaruh
terhadap masyarakat luas, efeknya tentu sangat massif.
Saya curiga. Kebijakan yang tak sehat, perundang-undangan
menyesatkan, dan proyek-proyek kotor itu barangkali merupakan buah ide dari
saat berak sepagi sebelumnya.
Wuih.
. . berak sepagi saja bisa menentukan nasib Indonesia bertahun-tahun. Bisa saja
rakyat Indonesia dirugikan hanya gara-gara ulah ide satu orang selesai berak
pagi. Apa perlu saya sebutkan contoh kasus kerugian negara akibat oknum nakal? Tentu
kamu lebih tahu, lha wong setiap hari selalu ditayangkan di televisi.
***
Bila sudah sadar tapi belum percaya akan kekuatan berak, ayo kita
amati dan selidiki bareng-bareng. Maksudnya “bareng-bareng” ya bukan ke toilet bersamaan
dalam satu waktu. Maksudnya, kita sama-sama membuktikan, benarkah akan adanya
kekuatan konsentrasi yang luar biasa di timing itu, The power of berak.
Hehe.
Seandainya sekali dua kali kok gagal, jangan putus asa untuk tetap
mencoba di edisi berak selanjutnya. “Gagal” dalam pengertian tidak menemukan
titik kefokusan / konsentrasi yang maksimal. Memang begitu sulit, namanya juga
pertapa. Bertapa itu kan butuh latihan seara terus menerus.
Dari sini kita bisa mulai menyimpulkan, bahwa belajar konsentrasi
adalah bertapa. Namanya bertapa ya wajarlah kalau ada ujian dan tantangannya.
Alias ada banyak penggoda.
Leluhur kita yang sering bertapa di goa-goa saja, terkadang masih
kalah dengan godaan kog. Apalagi kamu yang bertapa di kamar mandi, pasti
godaannya jauh lebih hebat, lebih besar. Apalagi menurut ilmu agama,
toilet-toilet itu penuh dengan syaiton-syaiton, khubusti wal khobaits
itu.
Bila terlanjur kalah dengan penggoda, bisa kacau semua urusannya.
Tidak menemukan ide bagus yang cemerlang, eh malah ketemu ide nakal seperti
niatan berperilaku korup diatas. Atau kalau tidak begitu, malah kebayang dengan
hasrat wanita seksi, akhirnya ya, bisa-bisa kebablasan onani di kamar mandi selesai berak. Hiii. Atau
mungkin malah onani pas di saat berak. Amit-amit. Eh, kenapa jadi sejorok ini.
Maaf keceplosan, berdasarkan pengalaman, pengalaman teman. Ya begitulah
tantangannya, tidak jadi menemukan inspirasi deh.
Makanya berdoa dulu sebelumnya, supaya ada berkah dan faedah dari
berak. (Masih ingat doa sebelum beol kan? Hehe.
Kalau kamu telah menemukan fadilah masuk WC. Tentu tidak bakalan
lagi menyia-nyiakan momentum ini. Sebab bisa jadi, mangkring di toilet itu
seraya di surge dunia. Banyak kog yang telah mengakui demikian.
Saat-saat berak itu adalah suatu masa dimana kehidupan akan terasa
sangat berharga. Begitu kata pejabat. Tidak ada yang mengganggu, HP mati, jauh
dari rasa keingintahuan wartawan. Berak itu serasa cuti nasional. Ya memang
begitulah berak.
Saat pikiran lagi stress butuh hiburan seperti karaoke, namun
tidak cukup punya uang untuk pergi ke tempat karaoke. Maka, ke toilet itulah
alternatifnya. Ke karaoke butuh biaya seratus ribu lebih, ke toilet gratis.
Bisa menyanyi sepuasnya. Hasilnya pikiran sama-sama lega. Bedanya, kalau di
karaoke bisa sekamar bareng-bareng. Sedangkan di toilet, kalau bareng-bareng ya
agak ngeri aja. Hehe
Begitu nikmatnya berada di ruang berak. Asalkan tidak jangan
berlama-lama, siapa tahu ada yang ngantri dan konon terlalu lama BeABe itu bisa
beresiko wasir. Hehee, (nikmatnya dunia itu memang cuma selalu fana).
Intinya, manfaatkanlah waktu sebaik-baiknya. Berak dengan waktu
secepat-cepatnya, namun menghasilkan ide sebesar-besarnya. Ingat, nasib
perubahan besar suatu bangsa sepuluh tahun, ditentukan oleh berak sepagi.
Eh, sebelumnya maaf jika kamu bela-beain waktumu untuk membaca
tulisan ini, ternyata tidak mendapatkan manfaat apa-apa. Saya hanya mengucapkan
“kasihan deh lu”. Sekian terimakasih.
Tulungagung, 10 Pebruari 2014
gile loe mas bro., hehehhee
ReplyDeletetulisane manteb tapi :-)
hahaha... nulis dalam keadaan setengah sadar ini.
ReplyDelete