Hadiah Caci Maki Buat Relawan

Sewaktu aku jalan ke lokasi bencana Gunung Kelud Kediri, tak sengaja bertemu dengan wajah-wajah mahasiswa sekampusku. Sejak hari pertama bencana, Jumat, 14 Februari 2014 mereka menjadi relawan. Sebagian di delegasikan oleh organisasi, sebagian yang lain terbentuk dari kelompok dadakan. Aku bertemu dengan mereka di sana, bahkan elemen yang tak aku kenali sebelumnya.
Kesemuanya mungkin telah terpanggil jiwa ke-voluntery-annya. Oh, mulia sekali.  Atau mungkin mau ke lokasi  bencana, hanya karena kebetulan nganggur saja. Dari pada tidak ada aktifitas lain. Atau mungkin buat narsis-narsisan, perseorangan yang narsis maupun narsisme organisasi. Entahlah motifnya apa, yang jelas dalam hatiku bersyukur sekali, di zaman yang kerapkali dianggap serba apatismini, ternyata masih ada hati yang humanis.



Kita yang sebelumnya tidak saling mengenal di kampus, kini dipersatukan oleh bencana. Sesuatu yang menyengsarakan, memang kerap kali mempersatukan.

Sebagaimana cerita kami dengan teman seorganisasi. Sempat kami intropeksi diri dalam sebuah obrolan di warung kopi pinggir jalan dekat kampus, blak-blakan. “Kira-kira ada semacam chemistry apa ya, sehingga hubungan pertautan kita bisa awet selanggeng ini? Apakah kita dipersatukan oleh rasa senasib seperjuangan?”.

Saya jawab, “kalau seperjuangan, mungkin tidak. Tapi kalau senasib, kayaknya iya. Kita senasib karena sama-sama bernasib miskin, itulah yang mempersatuan kita. hwasyu,”.

Jujur-jujuran saja, kita memang dipersatukan oleh kemiskinan. Kita bersatu, mungkin karena kebetulan berteman akrab, maka sayang jika ditinggalkan.
Ini pengalaman pribadiku dan teman-temanku saja lho, jangan tersinggung bagi kamu yang berorganisasi memang dengan setumpuk cita-cita melangit, cita-cita perjuangan, pembenahan karderisasi. Bagiku bullshit !!! Mungkin saya lebih sepakat bila kamu jujur, berorganisasi dengan tujuan pramatismu, demi jaringan, demi batu loncatan karir. Itu lebih realistis, dan saya bisa menerima dengan akal (tak) sehat.

***
Ehm, maaf agak sedikit meloncat pembahasannya. Kembali ke laptop !!!
Meskipun perbandingan antara mahasiswa yang terpanggil menjadi relawan dengan jumlah keseluruhan mahasiswa, bisa dikatakan jauh lebih sedikit. Tapi itu bisa dimaklumi, daripada tidak ada sama sekali.


Kado Caci Maki tuk Relawan

Memangnya menjadi relawan dan pejuang aksi itu, hukumnya fardhu kifayah?Fenomena kerelawan ini kalau boleh saya mirip-miripkan, ada miripnya dengan peran pejuang kebangsaan kita, mulai dari jaman kebangkitan nasional, sumpah pemuda 28, angkatan 66, reformis 98, dsb. Dari keseluruhan gerakan tersebut, kan tidak semuanya menjadi aktor perubahan. Tidak semuanya menjadi relawan aksi.
Termasuk juga pada berbagai kesempatan demo mahasiswa belakangan, tidak kesemuanya turun ke jalan. Meskipun tujuan aksi untuk kepentingan orang banyak. Malahan tidak jarang pula mendapat gunjingan dan caci-maki oleh orang lain. Ambil contoh saat aksi penolakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), tarif dasar listrik, aksi kenaikan harga SPP, yang buah manisnya nanti diharapkan bisa dinikmati bersama. Namun pada kenyataannya, tidak sedikit mahasiswa lain malah mengecam serta “mengicikkan”  kegiatan aksi itu.

“Cie mas aktivis, Ngopi wae enak. Gak ono penggawehan liyo to?” – sebut saja namanya Mas Apatis. Mas aktivis balik bertanya, “Seumpama harga BBM gak jadi naik, harga SPP turun, kowe seneng gak?”.
Mas Apatis “Yo seneng banget sih”.
Mas Aktifis :“Jancok, asu, raimu cok, su matamu !!!!!”

RELAWAN,
(Kadang Rela Kadang Perlu Melawan)

Maaf agak jorok, terbawa emosi. Saya bisa memaklumi atas ketidakikutsertaan kamu dalam kegiatan aksi, tapi  saya sangat tidak terima bila kamu mencaci relawan-relawan perubahan itu. Kamu berdiam saja mungkin malah ganteng.

Kau tidak bisa hanya memposisikan diri kamu sebagai pengamat dan kritikus, sementara dalam diam-diam juga menikmati produk keberhasilan (aksi). Manusia apatis seperti ini tidak lain hanyalah semacam penikmat revolusi. Bajingan sekali, main aman saja.

Terkecuali kalau aksi yang hanya mengejar eksistensi, narsis-narsisan, itu lain lagi persoalannya. Kau maki merekapun, saya tidak tersinggung. Justru mempersilahkan. Caki maki saja mereka, aku kabur saja. Hwahahaha.
***

Semoga Tuhan memberkahi kebaikan para relawan bencana dan aktifis pergerakan.  Tuhan akan membalas ketabahan atas caci makian yang mereka dengar, serta semoga niatnya selalu berpangku dalam rel ketulusan.

Sebab keberhasilan adalah produk ketulusan, dan itulah esensinya perjuangan. Begitulah kata seorang filsuf Jawa Aumaratjokroteleszeckckckzeze. Siapapun itu yang menasehati, mungkin anda akan sepakat, bahwa esensi itu lebih penting daripada eksistensi.

Jika kerja keras kita dalam membantu sesama manusia tidak membuahkan hasil yang signifikan (bahkan nihil), setidaknya kita sudah melakukan apa yang bisa lakukan, seberapapun hasilnya  walaupun hanya berdampak kecil, itu lebih mending daripada tidak sama sekali.

Memang, sedikit demi sedikit, lama-lama capek juga. Hehe.
Sadari saja, perubahan itu tidak seinstan saat kita “memesan tempe, terus segera mendapatkan tempe”. Anggap saja apa yang kita lakukan hanyalah langkah pertama dari seribu agenda perubahan yang akan kita tapaki kemudian.

Hidup rakyat !!! Hidup beasiswa !!!

(Eh, sering sekali saya tadi menyanjung istilah pejuang perubahan, jangan salah faham ya ! Saya bukan “agen partai gerakan perubahan” lho, Partai Nasd*m. Saya juga sering memakai istilah pergerakan, jangan dikira saya kader PM*I ). Heuheuheu.

Maaf, saya tidak menggunakan kajian teoritis sama sekali dalam tulisan, entah itu kajian filsafat atau analisa sosial. Saya tidak bisa berteori dan berfisafat. Jika anda berkenan mengkaji dengan dengan segudang teorimu, silahkan.

Mau meneruskan pembahasan kog sudah mengantuk ya…, pembahasan mendalamnya nanti menjadi PR saja. Sekian.

Comments

Popular posts from this blog

Aku di Rumah Janda

Rintihan Aktivis Hormonal; Kisah Haru Si Bekos

Menjadi Penulis Tanpa Bayaran